oleh

Warga Pasir Panjang Demo ke Kantor Walikota

-Daerah-103 Dilihat

KUPANG, Terasntt.com – Gelombang aksi penolakan pembangunan tembok pengaman di sepanjang pesisir panjang, Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang terus berkelanjutan.
Puluhan warga asal kelurahan itu yang tergabung dalam Warga yang tergabung Forum Masyarakat Peduli Pasir Panjang bersama sejumlah organisasi kepemudaan seperti LIga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), PMMI dan FMN, Kamis (8/10/2015) kemarin kembali mendatangi Kantor Walikota Kupang.
Masa yang bergerak dari ruas jalan Timor Raya tersebut dalam orasinya menyatakan menolak pembangunan beton pengaman pantai di Pasir Panjang.
Koordinator aksi, Frans Riwu dalam orasinya saat tiba di Kantor Walikota Kupang mengatakan, pihaknya mendukung berbagai kegiatan pembangunan yang diselenggarakan pemerintah namun harus bernafaskan kerakyatan atau disebut pembangunan demokratif yaitu dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat.
Menurutnya, hal itu dimaksudkan agar pembangunan yang dilaksanakan memenuhi kebutuhan, manfaat dan dapat membangun partisipasi public.
Namun faktanya, kata Riwu, pembangunan beton pengaman di Pasir Panjang bukan berdasarkan permintaan warga saat pelaksanaan Muyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) di tingkat kelurahan.
Menurutnya, saat musrenbang pihaknya hanya meminta supaya dibangun bangunan pemecah gelombang di sekitar kawasan itu.
“Dalam Musrembangkel Kami meminta dibangun pemecah gelombang tetapi yang datang bangunan jooging track dan dibangun di atas pasir laut. Historis disebut kampung pasir panjang karena keberadaan pasir laut yang terbentang pajang, tetapi dengan dibangun beton maka akan menjadi kampung benton panjang,” katanya.
Menurutnya, pembangunan yang dilaksanakan Pemkot Kupang tersebut akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi warga di kawasan itu. Sebab nelayan akan kehilangan tempat untuk memperbaiki, merawat atau membuat perahu baru mereka.
Bahkan tambahnya, saat musim angin berlangsung nelayan akan kehilangan tempat untuk menambatkan perahu agar terhindar dari gelombang pasang dan angin kecang.
“Selain itu, secara ekologi makluk hidup di atas dan di dalam pasir akan kehilangan habitatnya.Sementara secara sosial masyarakat kota yang ingin berekreasi dan berolah raga diatas pasir sudah tidak bisa lagi,” tambahnya.
Ia mengatakan, saat sosialisasi belangsung pihaknya telah mengingatkan hal itu namun terkesan diabaikan Pemkot Kupang. Bahkan kata dia, persoalan itu telah disampaikan ke DPRD Kota Kupang naun tidak diperhatikan.
“Keputusan Ketua DPRD Kota Kupang dalam pada tanggal 28 September 2015 lalu diserahkan ke pemerintah untuk melakukan komunikasi dengan masyarakat, namun sampai saat ini tak pernah ada komunikasi, namun pembangunan tetap berjalan.Kami dari Forum Masyarakat peduli Pasir Panjang akan terus menggalang kekuatan lebih besar untuk menyadarkan pemerintah,” tandasnya.(rif)

Komentar