oleh

Warga Flotim Terancam Kelaparan, Bupati Tetapkan KLB

-Daerah-25 Dilihat

LARANTUKA,terasntt.com –Kemarau panjang yang melanda wilayah NTT umumnya dan Kabupaten FLores Timur (FLotim) hingga saat ini membawa petaka. Masyarakat kehabisan stok pangan hingga terancam kelaparan.

Dari 800 ha dari 900 lebih hektar jagung dan tanaman lain mengalami kekeringan.
Kondisi itu jika tidak ditangani secara simultan, maka warga akan kelaparan.

Untuk itu, Bupati Flotim, Yoseph Lagadoni Herin menetapkannya sebagai bencana alam dengan status kejadian luar biasa (KLB).

Seperti yang disaksikan terasntt.com sepanjang pergantian musim kemarau ke musim hujan di bulan Desember 2015 hingga Januari 2016, volume hujan sangat kurang hanya sekitar satu atau tiga kali hujan turun intens di sepanjang dua bulan berjalan.

Kondisi itu membuat, tanaman milik petani semuanya meranggas. Umumnya jagung yang bisa bertahan hidup di wilayah yang dekat dengan sungai atau tanahnya sedikit basah. Sementara di areal padang, jagung dan padi meranggas.

Anggota DPRD Kabupaten FLotim, Ato Agil, SH, usai reses kepada wartawan, Senin (25/1/2015) membenarkan kondisi itu.

Ia mengakui, kondisi tanaman yang mati dihampir semua kecamatan dan terparah di Kecamatan Ile Boleng dan di wilayah Solor.

” Saat reses hampir semua warga yang umumnya petani mengeluhkan soal curah hujan yang kurang sejak bulan November 2015 dan terus berlanjut hingga ke Januari 2016. Kondisi itu membuat tanaman mereka mati,”katanya.

Ia, juga berharap, Pemerintah FLotim melakukan upaya penanganan jangka pendek dengan memberikan bantuan beras kepada masyarakat agar tidak kekurangan pangan. Dan selanjutnya mencari strategi untuk keberlanjutan tanam bagi petani untuk beberapa bulan kedepan.

” Kalau padi tidak bisa, maka apa yang harus ditanam para petani. Apakah tanaman palawija atau jenis lainnya. Ini penting untuk memperkuat pangan masayrakat FLotim,” harap Ato Agil.

Aton juga mengakui, warga Flotim umumnya bisa hidup juga karena adanya semangat merantau atau petualang.
Dari 223.000 penduduk, hampir 100.000 berada di Malaysia atau daerah lain.
Dari para perantau inilah uang dan berbagai keperluan warga Flores Timur sebagian besar didapat.

Para perantau ke Malaysia ini juga membantu anak-anak muda untuk melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Begitu pula sebagian warga dapat membangun rumah dan membeli perabot serta alat transportasi.

“Kondisi ini pulalah yang membuat kerawanan sosial masyarakat tertekan. Jika bukan karena merantau maka warga FLotim sangat tinggi tingkat kerawanan sosialnya,”tandas Ato.(ifa)

Komentar