oleh

Tokoh Marga & Warga Benu Tolak Serahkan Lahan

-Daerah-22 Dilihat

OELAMASI, Terasntt.com – Tokoh masyarakat, tokoh marga dan warga Desa Benu, Kecamatan Takari Kabupaten Kupang menyatakan menolak menyerahkan lahan seluas 200 hektaare untuk pembangunan 1.000 unit rumah bagi warga eks Timor-Timur di wilayah itu.
Penegasan itu disampaikan tokoh masyarakat, tokoh marga dan warga asal Desa Benu dalam pertemuan yang difasilitasi pemerintah Kecamatan Takari Kabupaten Kupang dengan sejumlah warga yang menyerahkan lahan di aula Kantor Camat Takari, akhir pekan kemarin.

Penolakan itu disampaikan warga menyikapi penyerahan yang dilakukan tokoh marga di desa itu, Okto Ba’af yang menyerahkan lahan seluas lebih kurang 200 hektaare kepada Pengurus Forum Penanggulangan Kemanusiaan Warga Baru (FPWB) di desa itu, Sabtu (16/1) lalu disaksikan Ketua DPRD Kabupaten Kupang, Josef Lede dan anggota DPRD Kabupaten Kupang, Daud Ullu serta staf asal Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Kupang dang pengurus forum.

Dalam pertemuan yang difasilitasi Camat Takari, Hengki Fafo, Penjabat Kepala Desa Benu, Markus Suilima tersebut, puluhan warga yang mewakili enam marga di desa itu menegaskan menolak menyerahkan tanah. Menurut mereka, lahan yang diserahkan itu dilakukan secara sepihak.

Masih menurut warga, luas lahan di wilayah itu terus menyempit sehingga bila diserahkan mereka akan kehilangan lahan untuk bercocok tanam. Di atas lahan yang diserahkan itu kata warga, selama ini dijadikan sebagai salah satu sumber untuk menafkahi keluarga.

Mantan kepala Desa Benu, Yosef Tunmuni pada kesempatan itu menjelaskan, lahan seluas 200 Ha berlokasi di Dusun I/RT.I Desa Benu yang diserahkan itu pernah diserahkan oleh pelaku yang sama guna dibangun rumah bagi pengungsi eks tim-tim di tahun 2013 lalu dan mendapat penolakan warga.

Pada kesempatan itu, ia mengaku heran dengan ulah pelaku Okto Ba’af bersama oknum tertentu kembali menyerahkan lahan itu untuk kegiatan yang sama.

“Kami menolak menyerahkan lahan yang sudah diserahkan oleh saudara Okto Ba’af kepada forum disaksikan pak Ketua DPRD Kabupaten Kupang minggu lalu. Itu tanah ulayat,” tandasnya.

Sebelum penyerahan dilakukan lanjut Yosef, pihaknya sempat diinformasikan soal kedatangan Ketua DPRD Kabupaten Kupang bersama forum untuk penyerahan lahan guna dibangun Translok.

“Sampai sejauh ini kami belum mendapat informasi dari pemerintah bahwa di sini akan dibangun Translok. Kami merasa heran dengan penyerahan ini karena kami sudah tolak tahun 2013 lalu. Kami merasa aneh kok hal yang ini terulang lagi,” katanya.

Penolakan itu tegasnya, telah disampaikan melalui surat resmi kepada Bupati Kupang, Drs. Ayub Titu Eki dan Camat Takari.

“Kami sudah menolak secara resmi. Kami tidak serahkan tanah karena kami tidak punya tanah lagi untuk pemerintah. Pak Okto Ba’af menyerahkan tanah tanpa mempedulikan warga lainnya. Kami sesali sikap pak Okto yang serahkan tanah secara sepihak tanpa speengetahuan kami,” tandasnya.

Hal senada disampaikan, Maria Tunmuni Saduk. Ia menegaskan, tindakan Okto dan Matinus Ba’af yang menyerahkan tanah ulayat tersebut sebagai tindakan menyesatkan dan berdampak buruk bagi warga selanjutnya.

“Saya tidak mau terima sikap mereka yang menyerahkan tanah. Itu tanah milik semua marga di Benu buka milik pribadi Okto Ba’af. Tanah tidak bisa berkembang tetapi warga Benu terus berkembang. Kami kerja dimana lagi kalau sudah diserahkan,” tandasnya.

Selama ini ungkapnya, warga menyandarkan hidupnya di atas tanah yang telah diserahkan itu. Dengan penyerahan itu kata dia, warga akan kehilangan sebagian besar pendapatannya.

“Selama ini kami ambil hasil di sana untuk dijual bahkan ambil kayu untuk bangun rumah. Kalau sudah diserahkan kami mau ambil hasil dimana lagi. Tanah itu milik seluruh marga yakni Neno dan Hanael bukan milik marga Ba’af saja sehingga kami menolak untuk serahkan ke forum atau pemerintah,” tandasnya.

Menanggapi hal itu Okto Ba’af, tokoh yang menyerahkan tanah tersebut mengatakan, dirinya menyerahkan tanah karena diiming-imingi pembangunan rumah sebanyak 400 unit dari 1.000 unit rumah yang direncanakan dibangun di atas lahan yang telah diserahkan itu.

“Ada yang datangi saya katanya mau bangun 1.000 unit rumah meliputi 40 persen untuk warga Benu dan 60 persen untuk orang luar. Sebelum diserahkan, saya sudah bahas dengan semua tokoh marga,”katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, sebelumnya ia tidak mengetahui DPRD Kabupaten Kupang dilibatkan dalam proses penyerahan.Dirinya, baru mengetahui DPRD Kabupaten Kupang ikut menghadiri proses penyerahan.

“Kami tidak pernah tahu kalau forum dating dengan dewan,” ujarnya.

Ia mengatakan, meski prosesi penyerahan sudah dilakukan namun belum dibuat berita acara penyerahan.

“Sampai sekarang belum ada BAP. Saya tidak jual tanah dan tidak lakukan pelepasan hak,” katanya.

Disinggung soal keluhan warga di lokasi itu yang menyatakan akan kehilangan mata pencaharian bila tanah tersebut diserahkan, ia mengatakan, dirinya tidak memikirkan hal itu. Ia juga mengatakan, mata pencaharian setiap warga di desa itu merupakan urusan masing-masing.

“Itu urusan mereka. Saya hanya mau bantu orang yang tidak punya rumah,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan warga lainnya, Abraham Matnay yang mengaku menyaksikan proses penyerahan itu. Ia mengklaim bahwa lahan tersebut milik Okto Ba’af sehingga pantas diserahkan.

Mendengar penjelasannya, warga yang diwakili mantan Kepala Desa Benu, Yosef Tunmuni menyatakan, tanah yang diserahkan itu milik enam marga di desa tersebut.

“Kami tolak karena itu bukan tanah pribadi tetapi milik enam marga di desa Benu,”tandasnya.
Sedangkan Penjabat Kepala desa Benu, Markus Suilima mengatakan, hingga saat ini dirinya belum menandatangani BAP penyerahan atas tanah itu.(bet)

Komentar