oleh

TNI bersama Warga Non Muslim Bangun Musola di TTS

-Humaniora-22 Dilihat

SOE, Terasntt.com — Anggota TNI bersama warga non muslim di Dusun Oe Ue, Desa Mauleu, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) gotong – royong bersama membangun musola bagi warga muslim setempat, Minggu (22/11/2015). Hal ini dilakukan sebagai bentuk kebersamaan dan model kerukunan hidup beragama di NTT umumnya dan desa dusun seetempat khususnya.

Disaksikan Terasntt.com, puluhan anggota TNI dan warga non muslim di desa Mauleu berbaur dengan umat muslim setempat membangun mushola secara bersam.
Ini merupakan salah satu contoh kerukunan hidup antar umat beragama yang patut ditiru semua pihak di daerah lain di Indonesia.

Meski hidup berdampingan dengan berbeda agama, tetapi kerukunan tetap terjaga. Bukan hanya pembangunan mushola saja, namun pengakuan beberapa warga non muslim untuk pembangunan tempat tinggal pribadipun, sering dilakukan secara bersama – sama secara ikhlas.

Kerukunan dan kebersamaan masyarakat yang tercipta desa itu sangat jarang sekali ditemui di tempat lain, terutama di kota – kota besar yang mayoritas pemeluk agama tertentu.

Berbagai indisen yang baru saja terlewati seperti peristiwa pembakaran gereja dan kekerasan antar umat beragama di beberapa daerah, seakan mengancam kerukunan hidup beragama serta toleransi beragama yang makin menipis.

Sementara di Desa Mauleu merupakan salah satu desa dengan ribuan umat berbeda agama masih memiliki toleransi hidup beragama yang sangat tinggi.

Gabriel Falo, seorang warga pemeluk agama Kristen didampingi keluarganya yang memeluk agama Katolik dan Islam mengakui, kebersamaan dalam melakukan kegiatan gotong royong sudah tercipta sejak lama.

” Ini saudara saya, yang di sebelah kiri beragama Islam dan sebelah kanan ini beragama Katolik. Kami selalu hidup berdampingan dan saling mendukung satu sama lain dalam bergagai hal,” kata Falo.

Falo secara pribadi mengakui selain membangun tempat ibadah, untuk membangun rumah tinggal juga sering dikerjakan secara bersama umat muslim.

“Kami disini jangankan membangun gereja atau mesjid. untuk acara pesta, masak memasak, membangun rumah tinggal, pembersihan tempat – tempat ibadah, baik umat muslim maupun non muslim selalu terlibat langsung. Dan ini sudah mengakar dalam kehidupan kami sejak dulu,” tegasnsya.

Salah satu pelaku sejarah, Arifin Nobisa membenarkan kerukunan hidup antar umat beda agama di desa tersebut.

“Seperti yang terlihat, ini sudah terjalin baik sejak dahulu ketika kami masih kafir malahan,” ujarnya sambil tersenyum.

Nobisa, menjelaskan asal mula warga desa Mauleu memeluk agama Islam. Yakni tahun 1966, ada sekelompok orang yang tergabung dalam satu tim utusan pemerintah pusat mengharuskan warga desa ini memeluk salah satu agama yang ada di Indonesia tanpa pemaksaan harus memilih agama ini atau itu.

Saat itu kami semua, lanjut dia sekitar 5.000 an warga masih belum beragama alias kafir, agama yang ada waktu itu hanya agama Kristen Protestan.
Salah satu tokoh pemerintah kami, Gabriel Isu yang memilih masuk agama Islam telah berganti nama menjadi Gunawan Isu.

Pada Tahun 1967 setelah pendataan oleh tokoh pemerintah Gunawan Isu, kami resmi masuk agama Islam dan tahun 1968 didirikanlah sekolah Islam dan satu mesjid A Nur di dusun Oe Ue.

” Saya kemudian memilih menganut agama Islam sampai berganti nama dari Tuak Nobisa menjadi Arifin Nobisa. Saat itu juga sebagian besar warga desa Mauleu memilih menganut agama Islam, sedangkan lainnya memilih menganut agama kristen Protestan,” katanya.

Ustad Ismail, koordinator pembangunan muhsola mengatakan, Pembangunan Mushola itu atas permintaan warga.

” Pembangunan mushola ini atas permintaan warga sendiri.Untuk bisa sampai ke Mesjid melaksanakan sholat Jumat umat muslim harus menempuh jarak sejauh 2 kilometer dan melewati hutan. Kalau lewat jalan umum, lebih jauh dan tidak ada kendaraan untuk bisa sampai ke sana, kecuali yang mempunyai kendaraan roda dua,” katanya.

Ismail, Wujud dari kebersamaan itu, adanya keterlibatan warga non muslim dan kerja sama dengan Satgas Pamtas RI – RDTL Yonarmed 11 / Kostrad dalam pembangunan Musholah.

Dia sendiri mengakui baru kaget saat mendapat laporan warga bahwa di desa Mauleu ada penganut agama Islam yang membutuhkan tempat ibadat. Sebelumnya ia tidak mengetahui ada warga salah satu desa di kabupaten TTS menganut agama Islam lantaran di kabupaten TTS mayoritas penduduknya beragama Kristen.

Harapan Ismail, dengan berdirinya Mushola ini dapat menambah keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah dan hubungan dengan sesama masyarakat tetap terjalin dengan baik.

Sementara Pasilog Dari Satgas Yonarmed 11 / Kostrad, Lettu Arm Wahyu Kuncoro mengatakan mendukung penuh semua kegiatan dengan menyalurkan bantuan sebagai wujud kerjasama dengan masyarakat.

“Kehadiran kami selain untuk menjaga keamanan batas negara Indonesia dan Timor Leste, ada juga program kerja lain yang akan dilakukan sepanjang masa tugas, yakni yang bergerak di bidang teritorial. Kami dari pihak TNI tetap mendukung semua kegiatan di masyarakat, sebagai contoh bantuan pembangunan mushola ini tanpa mengesampingkan kerjasama dengan agama lain. Jika ada permintaan untuk bekerja sama membangun gereja, pembersihan tempat – tempat ibadah dan sarana lainnya, kita tetap berkomitmen membantu sesama”, ungkap Pasilog, Wahyu Kuncoro.

Dalam pembangunan satu unit mushola, selain melibatkan warga non muslim juga melibatkan 32 anggota Satgas Pamtas RI – RDTL Yonarmed 11 / Kostrad dan sejumlah pengusaha muslim dari kota Kefamenanu kabupaten TTU yang hadir sebagai penyumbang material guna membantu kelancaran tempat ibadah di desa Mauleu, kabupaten Timor Tengah Selatan.(dit)

Komentar