oleh

Tiga Balita di Kabupaten Kupang Meninggal Diserang Diare

-Daerah-70 Dilihat

OELAMASI – Tiga orang balita di Dusun tiga Tinis, Desa Oemolo, Kecamatan Amabi Oefeto Timur Kabupaten Kupang meninggal dunia pasca setelah mengalami Muntah dan Berak (Muntaber) yang mewabah di wilayah tersebut.
Ketiga balita yang meninggal dunia tersebut diantaranya Dewi Snae (2,2 tahun), Gisda Difantri Baunsele (1,6 tahun) dan Vilomina Florida Seran Klau (1,5 tahun).

Ayah dari Vilomina Florida Seran Klau salah seorang korban dalam kasus itu, Silvester Seran Klau kepada wartawan di dusun itu, Selasa (12/01) mengatakan, hampir setiap saat wilayah itu dipenuhi lalat dan nyamuk. Menurutnya, hal itu diduga kuat akibat kebiasaan warga yang kerap membuang hajat sembarang.

“Disini hanya ada WC darurat atau WC Cemplung yang tidak sehat sedangkan untuk WC sehat sangat terbatas,”ungkapnya.

Korban yang meninggal kata dia, umumnya terkena gigitan nyamuk dan menimbulkan gejala bintik – bintik hitam pada kulit sehingga mengalami demam tinggi. Selain itu ungkapnya, korban juga mengalami muntah dan diare berlendir putih bahkan ada yang mengeluarkan darah.
Kejadian itu lanjut Seran diperparah dengan tidak adanya tenaga medis yang bertugas di Desa itu. Selain itu ungkapnya, jarak antara desa itu dengan Puskesmas Oenuntono cukup jauh mencapai 18 kilometer sehingga menyulitkan pihaknya untuk mengevakuasi para korban agar mendapatkan pertolongan medis.

“Tenaga bidan desa yang ada sudah tidak bertugas lagi setelah program PNPM-MP telah berakhir, sedangkan tenaga bidan dari program PNPM GSC juga hadir hanya sekali dalam satu bulan,”terangnya.

Persoalan itu lanjut dia, telah diinformasikan pihaknya ke bidan yang bertugas di Puskesmas namun bidan tersebut beralasan, stok obat tidak ada sehingga pihaknya hanya bisa pasrah dengan keadaan.
“Putri saya meninggal tanggal 10 Januari 2016 lalu,” ungkapnya.

Kepala Puskesmas Oenuntono, Remigius Gunas kepada wartawan di Dusun Tinis disela – sela pemberian pelayanan kesehatan mengatakan, kejadian diare yang terjadi di dusun itu berlangsung secara sporadis atau diare persisten yaitu diare yang terjadinya tidak serentak dan telah terjadi sebelum Januari 2016.

Sebab menurutnya, ada kejadian yang berlangsung pada Desember 2015 lalu. Kejadian itu menurutnya, disebabkan oleh virus berjenis protavirus yang ditularkan oleh nyamuk, lalat dan terdapat pada air minum.

Mengenai korban balita meninggal dunia, ia menjelaskan, para korban umumnya meninggal dunia akibat kekurangan cairan ditambah lagi dengan tidak adanya pertolongan pertama.
Ia menambahkan, bidan yang pernah bertugas di desa itu masa tugasnya telah selesai sejak juni 2015 lalu sedangkan bidan penggantinya hanya datang ke lokasi itu sekali dalam sebulan untuk kegiatan Posyandu.

Sementara Camat Amabi Oefeto Timur, Yesaya Pa’e kepada wartawan dirinya menyambangi lokasi itu setelah mendapat informasi dari warga dan langsung berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kesehatan serta Kepala Puskesmas Oenuntuono untuk mengambil langkah – langkah pencegahan.

“Tanggal 11 Januari 2016 malam hari kami bawa empat orang balita untuk dirujuk ke RSUD Naibonat, sementara 74 balita lainnya dirawat di Puskesmas Oenuntono dan hari ini (kemarin, red) sembilan orang balita lagi yang dirujuk ke RSUD Naibonat untuk mendapatkan pertolongan lanjutan,” ujarnya.

Ia menduga kejadian itu diduga kuat akibat pola hidup masyarakat yang belum terbiasa dengan cara hidup bersih dan sehat seperti selalu mengonsumsi air minum tanpa dimasak terlebih dahulu, buang hajat di sembarang tempat ditambah lagi dengan iklim yang selalu berubah.(bet)

Komentar