oleh

Teroris Santoso Ancam Istana Merdeka dan Polda Metro

-Nasional-28 Dilihat

Jakarta, CNN Indonesia — Sebuah video berisi rekaman suara yang disebut sebagai pimpinan Jamaah Indonesia Timur, Santoso alias Abu Warda, beredar di media sosial Facebook. Pada gambar diam yang diunggah oleh akun bernama Muhammad Bahrunnaim Anggih Tamtomo itu tercantum tulisan ‘Seruan Sang Komandan, Abu Wardah Asy-Syarqi’.

Pada video tersebut terlihat kibaran bendera ISIS di bagian kiri gambar, dan sosok seorang pria yang diduga komandan kelompok Mujahidin Indonesia Timur, Santoso alias Abu Wardah.

Dalam rekaman suara berdurasi 9 menit 35 detik itu, dilontarkan juga ancaman kepada pemerintah dan Polda Metro Jaya.

“Karena kami adalah tentara Daulah Islam yang sedang mengingatkan kalian. Yang kalian percaya atau tidak percaya, suka atau tidak suka, rela atau tidak rela, panji hitam ini akan berkibar dengan izin Allah di atas Istana Merdeka dan akan kami hancurkan Polda Metro Jaya,” ujar suara dalam video yang diunggah pukul 10.32, Minggu (22/11).

Kepada CNN Indonesia, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Saud Usman Nasution mengatakan pihaknya telah mengambil langkah-langkah terkait keberadaan video tersebut.

“Kami perlu telusuri asli atau tidak, siapa yang buat, motivasinya apa,” kata Saud lewat sambungan telepon, Senin (23/11).

Tak sampai di situ, BNPT telah mengajukan pemblokiran video tersebut kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika.

“Setelah itu penegak hukum akan menelusuri untuk melakukan tindakan lebih lanjut,” kata Saud.

BNPT juga meminta masyarakat tidak terpengaruh oleh keberadaan video tersebut.

Lebih jauh, Staf Ahli Deputi Pencegahan BNPT Wawan Purwanto mengatakan orang dalam rekaman video tersebut diduga memang Santoso. Walau demikian, kepastiannya masih harus diverifikasi oleh tim forensik.

“Dugaan awal iya itu memang Santoso,” ujarnya.

Wawan mengatakan ancaman seperti itu bukan hal baru di Indonesia. Bahkan, kata dia, ledakan bom pun masih menjadi ancaman bagi masyarakat.

“Karena itu harus disadari ancaman itu selalu ada, dan kami juga terus berkoordinasi karena ini menyangkut pencegahan,” kata Wawan. (meg)

Komentar