oleh

Syamsudin Uba: Saya Tak Merusak Negara, Kok Ditangkap

-Nasional-63 Dilihat

Jakarta, CNN Indonesia — Syamsudin Uba memimpin pertemuan yang dihadiri sekitar 100 orang dari berbagai penjuru Pulau Jawa di Masjid Asy Syuhada, Gunung Sahari, Jakarta Pusat, 14 Februari. Beberapa hari kemudian, media Australia, ABC, memberitakan kajian di masjid itu bagian dari propaganda ISIS.

Pengurus masjid kelimpungan, menyebut masjid mereka hanya dipinjam. Mereka lantas memecat pengurus seksi dakwah Masjid Asy Syuhada yang mengundang Syamsudin Uba datang ke masjid itu.

Syamsudin Uba bukan nama baru. Dia pernah ditangkap polisi karena diduga menyebarkan ISIS di Alor, Nusa Tenggara Timur, tahun lalu. Namun ia kemudian dilepas karena aparat tak mengantongi cukup bukti soal keterlibatannya.

Ditemui di Islamic Centre Bekasi Jawa Barat, Jumat (26/2), oleh wartawan CNNIndonesia.com Abraham Utama, Syamsudin Uba bercerita tentang penangkapan terhadapnya di NTT itu, juga soal teror Thamrin.

Saat itu sedang ceramah di kampung saya. Saya lahir 23 Agustus 1975. Setelah saya mengetahui ilmu ini (tauhid), wajar dong saya kembali (ke kampung) dan memberitahukannya kepada keluarga saya. Tapi kok saya malah ditangkap?

Berita awalnya dari Kodim, lalu saya dibawa ke Polres (Alor), melewati jalur laut selama delapan jam. Malam itu juga mereka langsung membuat berita acara pemeriksaan saya.

Saya ditangkap dengan Zakaria. Kami waktu itu mengajarkan risalah tauhid, tidak ada yang lain. Karena kami merasa sudah memiliki ilmu itu, ya kami sampaikan ilmu itu kepada keluarga kami di masjid.

Lima hari di Polres. Itu sangat tidak manusiawi. Kami minum tidak bisa, ganti pakaian tidak diperbolehkan. Keluarga membawakan pakaian ganti, tidak diperbolehkan masuk. Itu tidak manusiawi.

Kami salat, diantarkan ke masjid. Padahal kami kan tidak merusak negara ini, kenapa harus begitu ketat?

Data lama tentang kabar saya mimimpin baiat 50 orang di Bekasi, dikirimkan ke Polres. Data itulah yang disosialisasikan ke seluruh Bekasi. Saya dikriminalisasi. Saya tidak punya hak berpendapat dan berserikat. Barangkali mereka ingin memiskinkan saya.

Setelah itu saya ditahan di Polda NTT selama lima hari. Data itu juga disampaikan ke Polda. Saya diminta keterangan oleh Reskrim dari jam 9 pagi hingga 11 malam. Saya membantah seluruh tuduhan.

Kalau mereka mau bicarakan ISIS, saya tidak punya data. Kalau khilafah, saya punya datanya. Kami tidak mengajak orang untuk menentang sistem di Indonesia, tapi kembali ke Alquran.

Laptop saya tentang kejadian di Suriah diambil. Saya jelaskan, (orang) yang dibakar itu adalah hukum Islam yang berlaku di sana dan tidak berlaku di Indonesia. Negara ini kan sudah punya sistem sendiri.

Laptop dan tablet saya mereka sita. Mereka kembalikan jam satu malam.

Anda disebut berpura-pura jadi tabib?

Saya memang tabib. Saya menerima konsultasi kesehatan. Bagaimana mau berpura-pura?

Ada yang tidak bisa Anda lakukan sejak penangkapan itu?

Saya punya usaha rumah sehat di Condet. Tapi data itu mereka sampaikan hingga tingkat RT, akhirnya kami mundur. Jadi yang di Condet dan Harapan Indah ditutup.

Pengajian saya ditekan untuk tidak boleh berkegiatan. Padahal majelis taklim kami terdaftar di Kementerian Agama Bekasi.

Makanya kami tanya, kesalahan kami apa? Kami lalu buat surat ke Polres, kalau kami menang dianggap radikal, kirim MUI (Majelis Ulama Indonesia) untuk menasihati kami. Kami akan terbuka.

Polisi tidak perlu susah-susah deradikalisasi. Kami kan sudah punya MUI. Tinggal datangi kami, ceramahi, tidak perlu pusing.

Manusia tidak punya hak mengafirkan orang. Yang punya hak adalah Allah dan Nabi Muhammad SAW.

Apa dampak penangkapan itu terhadap keluarga Anda?

Ketiga anak saya sangat merasakan dampak itu

Saat saya ditangkap di NTT, istri saya menutupi kasus itu dari anak-anak saya. Dia bilang, “Abi kalian sedang dalam perjalanan laut, ponselnya tidak dapat dihubungi.”

Tapi kan teman sekolah anak saya bicara, “Abimu ditangkap.” Anak saya pulang, mereka menangis.

Efek itu sangat berbahaya. Dalam konteks kemanusiaan, itu sangat merugikan.

Di lingkungan, kami baik. Kami juga bergaul, tanyakan saja ke RT/RW. Kami pergi, kami titip kunci ke tetangga. Kalau kami pergi, kami titip anak kami. Komunikasi dengan masyarakat enak.

Bagaimana pendapat Anda tentang Bom Thamrin?

Saya tidak tahu.

Pelaku disebut berhubungan dengan ISIS?

Saya bantah, tidak. Saya membina anggota majelis taklim kami untuk membina suasana negara ini tetap baik. Itu bukan anggota kami. Binaan kami resmi. Intel sering datang dan merekam. Kapan saya pernah menginstruksikan anggota mengambil aksi di negara ini? Tidak pernah.

Semua kegiatan ini harus ada komando dan sistem syariah. Tidak boleh melakukan sesuai keinginan sendiri karena nanti efeknya mencoreng umat Islam.

Anda tidak mendukung aksi di Thamrin?

Saya tidak punya hak menilai orang lain. Barangkali mereka memang benar sedangkan saya salah. Saya tidak berhak menafsirkan apa yang mereka lakukan.

Anda pernah pergi ke Suriah?

(Tertawa). Bagaimana saya harus menjawab pertanyaan ini? Tanyakan saja kepada Densus 88, paspor saya ada atau tidak. Kalau ada, saya pasti sudah berangkat. Kalau tidak ada, bagaimana saya pergi?

Anda tidak punya paspor?

Tidak punya. Saya belum pernah ke Suriah. Memangnya ke sana terbang pakai sayap? Kan harus pakai paspor.

Anda kenal dengan tiga warga Indonesia yang disebut menjadi pemimpin di ISIS, Bahrun Naim, Bahrumsyah, Abu Jandal?

Secara dalil, siapapun yang beragama Islam, mereka bersaudara. Agama lain pun membangun komunikasi. Saya bergaul dengan orang syeikh.

Saya kenal dengan Bahrumsyah, dua lainnya saya tidak kenal. Saya dan Bahrumsyah sama-sama deklarasi (mendukung ISIS) di Bundaran HI. Setelah itu kami tidak berkomunikasi lagi karena dia pergi ke Suriah. Saya terakhir bertemu dia di sana.

Sebelum deklarasi itu, sejauh mana Anda mengenal Bahrumsyah?

Dia seorang yang berilmu, berakhlak mulia. Dia binaannya Ahmad Sumargono, tokoh nasional di Partai Bulan Bintang. Setahu saya, Bahrumsyah itu orang baik.

Anda kenal Abu Bakar Ba’asyir?

Kenal, karena dulu saya di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Saya dulu sering undang dia untuk kajian di Tasikmalaya. Terakhir dulu saya di Menteng tahun 2000-an, mendukung Abu Bakar Ba’asyir menjadi presiden tanpa demokrasi tapi melalui musyawarah alim ulama.

Kapan terakhir kali berkomunikasi dengan Ba’asyir?

Sidang pertama PK (Peninjauan Kembali) di Cilacap 12 Februari lalu. Tapi saya tidak dapat berkomunikasi dengan dia. Saya baru sekali datang ke persidangannya itu.

Afif, pelaku teror Thamrin, disebut pernah datang ke pengajian yang Anda gelar di Masjid Al Fataa?

Bohong. Saya tahu siapa saja anggota binaan saya. Wajah-wajahnya saya paham. Para pelaku itu tidak pernah datang ke Menteng. Satu pun tidak. Yang menyebar isu itu coba kasih tahu saya.

Mereka itu jarang datang ke masjid. Kapan mereka datang ke pengajian saya? Harus ilmiah, jangan ngarang. Peserta pengajian itu jumlah paling tinggi 500 orang.

Para pelaku itu orang lama. Bisa juga mereka itu orang JI (Jamaah Islamiyah). Anggota khilafah sekarang punya aturan syariah yang jelas.

Anda tahu motif di balik Bom Thamrin?

Dua jenderal sebut aksi itu bukan ISIS, satu jenderal bilang ISIS. Jadi itu proyeknya siapa? Itu saja. Ryamizard dan Sutiyoso bilang itu bukan ISIS. Kenapa yang satu bilang ISIS? Kepentingan apa itu?

Saya kaji, Polda datang ke situ seharusnya satu jam, kok sekian menit sudah ada di situ?

Kalau tindakan itu benar dilakukan anggota khilafah atau ISIS, kenapa tidak dilakukan di ruangan saja sehingga bisa mematikan banyak orang. Saya tidak terlalu memahami itu. Tapi akhirnya semua ditekan gara-gara Thamrin.

Ada kolega atau teman Anda yang ditangkap usai peristiwa itu?

Bukan teman. Beberapa orang yang ditangkap itu bukan garis koordinasi saya. Mereka punya jalur sendiri. Tapi secara konteks Islam, kami semua bersaudara.

Anda disebut pernah memimpin Jamaah Ansharut Tauhid?

Itu fitnah. Itu data lama. JAT itu sistemnya baiat. Saya anak HMI dan GPI (Gerakan Pemuda Islam). Saya bukan Ketua JAT. Ketua JAT di Bekasi itu ada, namanya Abu Fatih. Aktivitas saya itu HMI, GPI, dan Koalisi Umat Islam di Bekasi. Di JAT saya bukan anggota, apalagi ketua.

Bagaimana Anda membiayai ‘perjuangan’ Anda?

Saya punya usaha busana muslim dan herbal. Ketika mau pergi jauh, saya bisa minta senior saya di HMI, tolong kasih uang transportasi. Kalau saya pergi dakwah, saya hubungi mereka.

Anda berapa bersaudara?

Tujuh bersaudara, saya anak kedua. Laki-laki empat, perempuan tiga. Orang tua kami masih ada. Adik bungsu dan saya tinggal di Jakarta, sisanya tinggal di kampung dengan orang tua.

Dulu Anda sekolah di mana?

Saya dulu di Pesantren At Taufik, Cibungur, Tasikmalaya, selama tiga tahun. Setelah itu saya ke Pondok Pesantren An Nur, Tasikmalaya, di dekat Brigif. Lalu masuk kampus (Sekolah Tinggi Agama Islam) di Fakultas Syariah.

Sejak kapan menetap di Bekasi?

2003. Saya lama di Tasikmalaya, dari 1992. Setelah menikah, baru saya ke Bekasi. Ketemu istri di Bekasi. Dia orang Madiun.

Anak sudah kelas berapa?

Yang pertama kelas 3 SD, kedua kelas 1 SD, ketiga TK, keempat baru umur enam bulan. (agk)

Komentar