oleh

Susi Pilih Tenggelamkan Kapal daripada Proses Pengadilan

-Nasional-21 Dilihat

Jakarta, CNN Indonesia — Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan alasan dari tindakannya untuk menenggelamkan kapal FV Viking di perairan Pangandaran, Jawa Barat, adalah karena malas menunggu proses pengadilan.

“Kami ingin ini menjadi satu contoh deterrent effect bahwa kami betul-betul tidak main-main lagi. Kami tidak mau juga menunggu lagi proses-proses pengadilan. Dengan seperti ini, kami lebih cepat dan lugas penanganannya,” ujar Susi di kediamannya di kawasan Pangandaran, Jawa Barat, kemarin.

Susi mengaku tidak mau lagi kecolongan seperti kasus kapal MV Haiva yang bisa lolos dari penenggelaman karena hanya didenda sebesar Rp200 juta. Selain itu, penangkapan kapal FV Viking terbilang besar dibandingkan dengan kapal-kapal ilegal lain yang telah ditangkap oleh Satuan Tugas KKP.

Susi mengatakan penenggelaman kapal FV Viking juga sebagai salah satu bentul pembelajaran bagi masyarakat bahwa tindakan ilegal fishing adalah bentuk kejahatan yang luar biasa. Ia mencontohkan, kapal FV Viking dengan bentuknya yang amat besar dinilai mampu mengambil ribuan ton ikan secara ilegal dengan keuntungan materi mencapai puluhan miliar rupiah.

“Coba lihat kapal sebesar itu. Panjang jaringnya mencapai 399 kilometer. Ikan apa dapat? Mereka dari data negara Norwegia, mereka sekali dapat mendapat 20 hingga 30 miliar, kurang lebih. Satu kali perjalanan itu delapan sampai sembilan bulan,” ujarnya.

Sementara itu, Susi juga menyampaikan dalam waktu dekat akan ada konferensi tentang kejahatan perikanan yang akan digelar dan diikuti oleh berbagai negara. Ia berharap, konferensi tersebut bisa diselenggarakan di Indonesia.

“Kita akan ada konferensi fisheries crime bulan Oktober. Saya berharap bisa di sini dilaksanakan. Supaya bisa lihat buktinya. Biar juga bisa awareness bagi generasi yang akan datang supaya bisa lihat,” ujar Susi.

Kapal Viking ditangkap Komando Armada Kawasan Barat TNI AL pada 25 Februari. Saat ditangkap, kapal itu dinakhodai seorang warga Cile, Juan Domingu Nelson Venegas Gonzales. Dia membawahi 11 awak kapal yang berasal dari berbagai negara, termasuk Myanmar, Argentina, Peru, dan Indonesia.

Kapal Viking telah lama diincar Interpol. Kapal ‘hantu’ yang bergentayangan dengan licin itu sudah berganti nama sebanyak 13 kali dan mengganti bendera asal negara 12 kali untuk menghindari kejaran aparat di perairan internasional.

Kebandelan Viking membuatnya diberi status kapal nirkewarganegaraan (stateless vessel). Kapal Viking melanggar hukum Indonesia, juga konvensi internasional. Awak kapalnya dituding terlibat penipuan terkait kejahatan perikanan. (gil)

Komentar