oleh

Serangan Udara Rusia Sudah Tewaskan 1.400 Warga Sipil Suriah

Jakarta, CNN Indonesia — Serangan udara Rusia terhadap Suriah telah menewaskan hampir 1.400 warga sipil sejak serangan itu dimulai pada empat bulan lalu. Begitu keterangan kelompok monitor HAM Suriah, Sabtu (30/1).

Syrian Observatory for Human Rights yang berbasis di Inggris, menyatakan informasi itu mereka dapatkan dari jaringannya di Suriah. Lebih lanjut dilaporkan bahwa serangan Rusia sudah menewaskan 964 pejuang ISIS dan 1.233 pejuang dari kelompok pemberontak yang lain.

Kelompok oposisi utama di Suriah telah meminta penghentian serangan udara bersama Rusia dan pemerintah Suriah itu, karena kebanyakan korbannya adalah warga sipil yang ada di daerah pemberontak. Penghentian itu disebut adalah prasyarat untuk pembicaraan antara pemberontak dan pemerintah Suriah.

Seperti diberitakan Reuters, Rusia mulai melakukan operasi serangan udara pada 30 September tahun lalu, untuk membantu sekutunya, Presiden Suriah Bashar Al-Assad.

Rusia sendiri mengatakan targetnya adalah kelompok militan ISIS. Tapi kelompok pemberontak dan masyrakat mengatakan, serangan itu justru memporak-porandakan permukiman warga sipil yang tidak berada di area pertempuran.

Militer Rusia yang Mencengangkan

Selama beberapa dekade, persenjataan Rusia dipandang sebelah mata oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Tapi perang di Suriah telah membuat mereka terbelalak melihat kehebatan militer Rusia.

Seperti dilaporkan Independent, jet Rusia telah mengangkut lebih banyak perbekalan dalam sehari, dibandingkan dengan yang diangkut koalisi AS selama sebulan.

Angkatan Laut Rusia berhasil meluncurkan rudal balistik dari Laut Kaspia, 900 mil jauhnya, dan terus menjaga jalur suplai ke Suriah.

Letnan Jenderal Ben Hodges, Komandan Angkatan Bersenjata AS di Eropa, mengatakan kemajuan Rusia dalam persenjataan elektronik sangat mencengangkan.

Adapun Komandan Operasi Angkatan Udara AS di Eropa dan Afrika, Letnan Jenderal Frank Gorenc, mengatakan Rusia sudah memiliki sistem antipesawat udara di Crimea dan Kaliningrad. Ini membuat akan sulit bagi pesawat NATO mengakses area tersebut.

Tak hanya NATO dan AS yang kaget. Israel pun begitu. Itu semua telah mengubah pandangan terhadap Rusia. (ded/ded)

Komentar