oleh

Polisi Diduga Lindungi Kades Perusuh, Korban Duduki Polsek Lurasik

-Hukrim-20 Dilihat

KEFAMENANU, Terasntt.com — Penanganan kasus penyerangan dan pengeroyokan oleh Kepala Desa Sapaen, Kecamatan Biboki Utara, Kabupaten TTU, Valentinus Manek terhadap dua warganya, Marselinus Saka dan
Benediktus Ampolo tidak berjalan. Diduga aparat Polsek Lurasik melindungi Kades yang bertindak arogan itu.

Kasus tersebut berlangsung sejak hari Sabtu, 2 Januari 2016 dinihari dan sesaat setelah kejadian korban melaporkan ke Polsek setempat, namun tidak disikapi.

Merasa dirugikan, Saka dan Ampolo bersama keluarga kembali mendatangi dan menduduki Polsek Lurasik, Rabu (6//1/2016)

Menurut Saka kehadiran mereka ke Polsek itu untuk mempertanyakan tindak lanjut laporan kasus penyerangan oleh Kade Manek dan massa.

” Kami menduga penyerangan itu didalangi Kades dan kami juga menduga dia dilindungi Polisi sehingga kasus ini didiamkan,” tegasnya.

Saka menegaskan, pihaknya sangat kecewa dengan kinerja aparat Polsek Lurasik. Pasalnya kepala desa yang diduga menggerakan massa untuk melakukan penyerangan ke rumahnya terkesan dilindungi.

” Tanggal 2 Januari 2016 kami ke acara muda – mudi katolik (Mudika) di gereja, di tengah jalan kami dikejar Goris Bano tanpa alasan. Kami sempat diancam akan ditikam. Saat itu terjadi adu mulut, masalah reda dan kamipun melanjutkan perjalanan menuju gereja. Menjelang 5 menit kemudian, Goris Bano bersama massa lainnya dipimpin Kades Sapaen menyerang rumah kami.
Seorang saudara saya kemudian berlari ikut ke tempat acara sambil berteriak melaporkan bahwa rumah kami diserang dan dirusak. Kami langsung ke rumah Kades berniat mempertanyakan kejadian itu, namun belum sampai di rumahnya, kami sudah diserang dengan batu,” ujarnya.

Dia juga, kecewa lantaran permintaan visumnya ditolak anggota polsek Lurasik.

” Kami sudah laporkan kasus tersebut dan minta visum namun ditolak anggota polisi tanpa alasan,” tegasnya.

Keluarga korban lainnya, Yoseph Aluman, mendesak agar berkas pemeriksaan kepala desa Sapaen, Valentinus Manek segera dikirim ke polres TTU.

Mereka menduga pihak kepolisian tidak transparansi dalam menindak laporan mereka. Bahkan kesal lantaran permintaan visum oleh keluarga korban ditolak polisi.

” Kapolsek Lurasik harus bisa tegas dalam menyikapi laporan warganya tanpa memandang bulu. Masa… kades perusuh dilindungi?. Kami yang korban minta didampingi untuk visum juga tidak boleh. Padahal korban sudah luka parah dan sempat istirahat sehari di puskesmas Lurasik. Kami juga minta alasan yang jelas, mengapa tidak ada satupun anggota polsek bersedia mendampingi korban dalam melakukan visum. Ada apa ini. Polisi tidak bersedia mendampingi, sehingga dari puskesmas hanya memberi surat keterangan sakit saja. Dan surat itu sudah kami tunjukkan ke kapolres AKBP. Robby Medianus Samban. Menurut Kapolres itu bukan hasil visum sehingga kami kembali meminta anggota polisi untuk mendampingi korban melakukan visum,” tegasnya.

Aluman juga berencana akan mengusulkan kepada pemerintah setempat untuk memecat kepala desa yang dianggap perusuh dalam kampung sendiri.

” Kami minta Bupati Raymundus Sau Fernandes perlu melihat tindakan kepala desa yang tidak terpuji ini. Bila perlu Manek dipecat karena sikapnya cukup meresahkan warga desa setempat. Ini memalukan sekali dan dia tidak bisa jadi panutan bagi masyarakat, seorang kepala desa bertindak sebagai perusuh dan ikut terlibat langsung melakukan penyerangan terhadap warganya sendiri,” tegas Aluman..

Sementara Kanitres Polsek Lurasik, Bripka Samuel Bani, yang menemui korban dan keluarga tetap bersikeras tidak mau memenuhi permintaan ijin visum korban dengan alasan tak jelas.

Dia, juga menolak dikonfirmasi wartawan dan dengan emosi menolak kehadiran wartawan di Polsek Lurasik.

Dalam kasus peyerangan ini, 4 orang pelaku sudah diperiksa yakni Serfas Amnunu, Marten Amnunu, John Amsikan dan kades Sapaen, Valentinus Manek. Namun dugaan keluarga korban, pihak kepolisian tetap berupaya melindungi Kades dengan tidak menaikkan berkasnya ke Polres TTU.(dit)

Komentar