oleh

Penyelundup Sepeda Motor, Diikat dan Diseret TNI

-Hukrim-60 Dilihat

KEFAMENANU, Terasntt.com –Tiga pemuda tersangka penyelundup sepeda motor di perbatasan NKRI – RDTL,Desa Napan, Kecamatan Bikomi Utara Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur,
Modestus Siki, Ferdinandus Sasi dan Justinus Eko berhasil ditangkap Komandan Pos Napan, Letda. Arm Milwan Yoga bersama anggotanya saat potroli. Siki semat melarikan diri, sementara Eko dan Sasi diikat dan dianiaya lalu diseret menggunakan sepeda motor ke rumah Siki untuk menangkapnya sekaligus mengambil barang bukti, Kamis (18/2/2016) pukul 6.00 wita.

Eko dan Sasi ditangkap saat, Yoga bersama anggotanya melakukan potroli di Napan wilayah perbatasan yang selama ini digunakan sebagai jalan tikus ke dan dari wilayah RDTL. Sementara Siki berhasil melarikan diri dan baru ditangkap sore tadi.

Prestasi yang ditore TNI di Daerah Perbatasan ini bukannya mendapat jempol, namun hujatan dan cacian yang dituai dari warga Napan karena tidakan dan siksaan terhadap tersangka tidak manusiawi.

Saat ditemui di RSUD Kefamenanu, kepada wartawan, Eko dan Sasi mengatakan awal diinterogasi, mereka tidak mengakui perbuatannya, namun karena takut disiksa dan dianiaya akhirnya mereka mengaku juga.

” Pas jam 04.00 wita subuh tadi kami bertiga melakukan penyelundupan motor ke Timor Leste melalui jalan tikus gunung putih. Saya berboncengan dengan Ferdi. Teman Destus (Siki) bawa motor jenis Kawasaki yang akan diselundupkan. Tiba di kali kami berdua yang berboncengan matikan mesin motor dan menunggu Destus mengantar masuk motor yang dikendarainya ke Timor Leste. Setelah itu kami kembali ke rumah Destus. Sekitar satu setengah jam kemudian, Destus kembali dari Timor Leste membawa motor lain lagi. Ia pun menelpon kami minta dijemput disana, lalu kami sama – sama menuju rumah Destus mengamankan diri. Selang berapa lama, kami keluar rumah melewati Pos Jaga. Kami dipanggil dan diinterogasi namun karena takut kami tidak mau berkata jujur. Setiap kami bicara tidak jujur satu per satu anggota TNI itu datang memukul kami. Sudah merasa tidak kuat lagi, akhirnya saya mengaku telah menyelundupkan motor. Di saat saya mengaku, saya dan Ferdi (Sasi) disuruh telanjang hanya menggunakan celana dalam saja. Kami berdua diikat dan disiram dengan air dingin. Saat tangan terikat kami dipukul dan ditendang oleh anggota secara bergantian. Dari situ dalam posisi terikat kami diseret menggunakan motor menuju rumah Destus mengambil barang bukti. Capek sekali, kami berlari -lari mengikuti motor yang dikendarai komandan Pos Milwan. Salah satu anggota bernama pak Adrian dibonceng memegang ujung tali yang diikat ke tangan kami. Melihat kami sudah kecapekan, Pak Adrian lalu turun dan ikut berlari dengan kami sambil menarik tali kemudian kembali naik ke atas motor. Kami berusaha melepas tali namun upaya kami itu justru membuat pak Adrian terjatuh dari motor. Kamipun dipukul lagi karena dianggap membuatnya terjatuh. Tiba di rumah Destus tidak mendapatkan barang bukti lalu kami kembali ke pos. Destus telah kabur membawa motor yang diparkir di sana,” kata Eko
disaksikan langsung, Wakil Komandan Satgas Pamtas RI – RDTL Yonarmed 11 / Kostrad Sektor Barat, Mayor Arief Budiman dan komdan Pos Napan Letda Arm Milwan Yoga beserta sejumlah anggota Satgas yang ikut ke RSUD Kefamenanu.

Walau demikian, Eko memgaku baru pertama kali melakukan penyelundupan motor. Itupun atas permintaan Destus untuk menemaninya hingga barang sampai ditangan pembeli.

Sementara Sasi mengaku sudah beberapa kali melakukan transaksi ilegal itu dan dibackingi aparat perbatasan.

“Saya sudah beberapa kali melakukan penyelundupan, tapi itu atas kerjasama saya dengan petugas keamanan, polisi dan tentara di batas,” katanya sambil menunduk karena takut terhadap beberapa anggota TNI dan polisi persis berada disampingnya.

Mayor Arief Budiman saat dikonfirmasi, menolak untuk diwawancarai dengan dalil belum mengetahui kejelasan masalahnya.

” Maaf, saya belum bisa kasih keterangan apapun karena saya tidak berada di TKP saat itu. Saya juga tidak bisa mendengar dari satu pihak saja, saya berada disini untuk mendengar keterangan yang benar dari korban juga. Jika terbukti anggota saya bersalah, saya tidak segan – segan untuk menindak tegas,” katanya.

Sementara keluarga korban yang turut hadir di RSUD Kefamenanu, mengutuk keras perbuatan komandan Satgas Letda Arm Milwan Yoga dan seluruh anggota satgas yang terlibat dalam kasus penganiayaan tersebut.

” Urus baik – baik saja to, kenapa harus siksa adik kami seperti binatang. Salah ya salah, diproses saja. Kalau berani, coba diproses saja karena selama ini adik kami berani selundup motor juga karena ada kerjasama dengan anggota polisi dan tentara,” ungkap seorang ibu yang mengaku kakak dari Justinus Eko.

Usai menjalani visun dokter korban kembali digiring anggota Satgas menuju desa Napan dalam rangka penyelesaian masalah tersebut secara kekeluargaan. Dan hasil koordinasi dengan keluarga korban belum diketahui terkiat upaya itu.(dit)

Komentar