oleh

Pastor & Pendeta di TTS Pimpin Demo Tolak PT.SMR

-Hukrim-25 Dilihat

SOE, Terasntt.com – Dua rohaniawan Katolik dan Kristen Protestan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) masing-masing Pater Yohanis Kristo Rata, OFM dan Pendeta Yusuf Manu memimpin warga melakukan aksi demonstrasi ke gedung DPRD Kabupaten TTS, Senin (19/10) kemarin.
Pantauan wartawan, kedua rohaniawan yang dikenal kritis terhadap aksi pengerusakan lingkungan hidup tersebut bersama puluhan warga asal Desa Supul, Kecamatan Kuatnana dalam orasinya menyatakan menolak PT.SMR melakukan eksplorasi mangan di wilayah itu.
Masa yang dipimpin dua rohaniawan tersebut berkonvoi menggunakan truck pick up dan membawa spanduk yang bertuliskan “PT. SMR Langgar HAM, PT.SMR Hentikan Kriminallisasi Pemilik Lahan, PT.SMR Segera Bayar Ijin Hutan, PT. SMR Jangan Intimidasi Warga.
Sebelum mendatangi gedung DPRD Kabupaten TTS, masa menyambangi kantor Dinas ESDM TTS. Usai berorasi di depan kantor dinas itu, mereka melanjutkan perjalanan ke gedung DPRD TTS.
Pastor Kristo dalam orasinya mengutuk tindakan PT. SMR yang secara paksa mengelola lahan milik warga Supul untuk dijadikan lahan tambang mangan.
“Penyerobotan lahan yang dilakukan oleh PT.SMR merupakan tindakan tidak terpuji dan jelas-jelas melanggar aturan, dimana belum ada kesepakatan antar perusahan dan pemilik lahan namun PT. SMR sudah menggarap secara paksa lahan milik warga,” tandas Kristo yang mendapat sorakan para pendemo.
Ia menegaskan, pihaknya tidak akan berhenti melakukan perlawanan sebelum Pemerintah dan DPRD TTS mengambil langkah – langkah penyelesaian atas persoalan yang ada di lokasi tambang.
“Kami akan melakukan perlawanan sampai titik darah penghabisan jika pemerintah tidak memperhatikan hal ini. Hak-hak warga sudah dirampas, dimana kepedulian pemerintah terhadap rakyat yang sedang ditindas oleh perusahan,”katanya.
Pastor asal JPIC OFM Timor ini mendesak pemerintah agar tidak berdiam diri dan harus harus lakukan pengawasan secara ketat perilaku pihak PT. SMR yang selama ini mengambil hak-hak warga pemilik lahan secara paksa.
“Kami hadir untuk menuntut hak-hak yang telah dirampas oleh perusahaan. Kami menuntut pemerintah untuk segera mengambil langka penyelamatan terhadap hak-hak warga yang telah dirampas oleh perusahaan,” ujarnya.
Sedangkan Pendeta Yusuf Manu dalam orasinya saat tiba di gedung DPRD TTS menungkapkan, cukup banyak lahan milik warga desa Supul yang diambil secara paksa oleh perusahaan.
Akibat eksplorasi tambang oleh perusahan itu lanjutnya, menyebabkan mata air di desa Supul mongering. Tindakan PT. SMR tersebut kata dia, tidak bisa dibiarkan karena akan berdampak buruk bagi warga.
“Hak-hak warga telah dirampas dan masyarakat kita dimiskinkan oleh perusahaan yang hanya mengejar keuntungan,maka gereja perlu untuk turun ke jalan untuk turut memperjuangkan hak-hak rakyat yang diambil secara paksa,” tefasnya.(pol)

Komentar