oleh

Mengenal Ras Melanesia melalui Budaya

-Nasional-87 Dilihat

KUPANG, Terasntt.com — Sebanyak lima propinsi di Indonersia bagian Timur masuk dalam ras Melanesia. Untuk memastikannya bisa dilihat dari budaya daerah masing – masing dan juga kurang mendapat perhatian.
Demikian disampaikan Lembaga sensor film Indonesia, Mukhlis PaEni ketika membawakan materi dalam bedah buku Diaspora Melanesia di Nusantara di Hotel Pelangi Kupang, Kamis (29/10/2015).
Dalam makalanya berjudul wajah Melanesia dalam industri budaya Indonsia , Mukhlis mengatakan salah satu ciri khas Budaya Melanesia adalah keanekaragaan yang luar biasa di lingkup geografis yang aman dan luas.
Menurutnya, ada banyak upaya untuk memperkenalkan wajah Melaniesia di kanca nasional dengan memproduksi berbagai jenis film.
Menurutnya, budaya Melenesia sebagai deposit industri film nasional, seperti semenandung di atas awan. Melodi Kota Rusa, Tanah Air Beta, Los in Papua, Atambua 39 derajat celcius, Di Timur Mata Hari, Mutiara Hitam, Cinta Dari Wamena, Cahaya Dari Timur (Beta Maluku), Tana Mama, Epen Cupen The Movie.
Bedah buku Melanesia ini disulap dalam dua sesi.
Sesi pertama dengan moderator wartawan Kompas, Frans Sarong berjalan amat seruh dengan narasumber, dengan narasumber, Mukkhlis PaEni. Ahli Geologi, Rovicky Dwi Putrohari dan Ninuk Kleden – Probonegoro.
Frans Sarong yang sudah malang melintang dalam dunia jurnalis dan juga sering menulis tentang Melanesia membuka cara berpikir ratusan peserta bedah buku untuk mengenal apa itu Melanesia.
” Masih banyak orang yang belum tahu apa itu malkuk Melanesia. Doposit Budaya, bahkan Melanesia harus ditambang melalui industri budaya untuk dikenal secara nasional,”tegasnya.
Sementara, Rovicky Dwi Putrohari dalam makalanya berjudul pembentukan kepulauan Indonesia, mengatakan bahwa peristiwa alam bisa menjadi faktor ” pengusir” dan juga ” penarik”, yakni bencana dan karunia.
Menurutnya, Gempa bumi bisa meninbulkan stunami dan merusak pantai, sementara Gubung Api menimbulkan kesuburan, Longsor bisa munculkan sumber air, Banjir bisa mendistribusi nutrisi tanah dan kebakaran hutan menimbulkan siklus nutrisi tanah. Putrohari, mengatakan, bahwa
fungsi geologi untuk mengkaji Mitigasi, konservasi dan ekstraksi, yakni kekayaan sumber daya alam termasuk air, lingkungan yang aman serta bencana alam dan karunia.
Sementara Ninuk Kleden – Probonegoro, menguraikan,
bahasa yang digunakan di Propinsi Maluku Utara merupakan reprtesentasi dari Melanesia.
” Masyarakat Maluku Utara adalah masyarakat multilingual memiliki 31 etnik dengan bahasa yang berbeda,” katanya.
Walau demikian, lanjut dia masyarakat Maluku Utara tidak sulit untuk memahami bahasa yang bukan dari etnisnya.
Multilingual itu disebabkan kerena bahasa yang digunakan masing – masing etnis itu masih berkerabat.
” Semakin dekat kekerabatan bahasa, semakin muda orang memahaminya. Katakanlah lebih muda orang memahami dialek dari pada rumpun bahasa yang berbeda,” tegasnya.
Demikian juga budayawan, Taufik Abdullah menguraikan, berdasarkan hasil penelitian ilmuwan Inggris, Alfred Russel Wallace, bahwa wilayah terdiri dari bagian Barat dan Timur yang berbeda.
Fauna pada kedua wilayah yang dibatasi selat kalimantan, Sulawesi dan Lombok tidak sama.
” Ada jenis hewan yang hanya bisa ditemukan di salah satu wilayah, bahkan ada yang sama namun memiliki sifat berbeda. Ini menggambarkan ada keterkaitan budaya dalam sebuah etnis,” katanya.(mas)

Komentar