oleh

Lebu Raya : Ayo, Sukseskan Revolusi Mental

-Humaniora-76 Dilihat

KUPANG, Terasntt.com — Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya mengatakan revolusi mental merupakan sebuah gerakan masyarakat (pemerintah dan rakyat) dengan cara yang cepat untuk mengangkat kembali nilai-nilai strategis yang dibutuhkan bangsa dan negara.

Istilah revolusi mental bukanlah hal yang baru bagi bangsa Indonesia.

” Pada tanggal 17 Agustus 1957 Presiden Soekarno dalam pidato kenegaraanya pertama kali mencetuskan istilah revolusi mental. Kemudian tahun 2014, gagasan revolusi mental kembali didengungkan oleh Presiden Joko Widodo, dan menyeruhkan sebuah sebuah Gerakan Nasional Revolusi Mental dengan mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru demi mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian,” kata Gubernur Nusa Tenggara Timur, Drs. Frans Lebu Raya dalam sambutannya ketika membuka Rapat Koordinasi dan Sosalisasi Gerakan Nasional Revolusi Mental tingkat propinsi di Hotel Aston, Kamis,(29/11/2105), pukul 20.30 wita.

Dia mengatakan, bahwa revolusi mental yang disebut Soekarno sebagai “Gerakan Hidup Baru” dengan tujuan tidak sebatas menanamkan rasa percaya diri dan kemampuan sendiri tapi juga menanamkan optimisme dan daya kreatif di kalangan rakyat dalam menghadapi rintangan dan kesulitan bermasyarakat dan bernegara.

” Ia adalah satu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia yang baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang bernyala-nyala,” katanya mengutip ucapan Bung Karno.

Bagi Bung Karno, lanjut Lebu Raya, revolusi mental, bukanlah pekerjaan satu dua hari melainkan sebuah proyek nasional jangka panjang dan terus menerus.

“ Kerja kita hari ini , menentukan nasib anak cucu kita di masa depan,” tegasnya.

Lebu Raya berharap dengan adanya rapat koordinasi dan sosialisasi ini dapat membawa sebuah perubahan dalam diri setiap pribadi.

Teridentifikasinya sasaran dan kegiatan di Provinsi NTT dalam rangka Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) dan terbentuknya Gugus Tugas GNRM pada Pemerintah Provinsi NTT dan setiap Kabupaten/kota .

Menurutnya, revolusi mental digalakan untuk menjalankan pesan Pancasila secara konsisten. Oleh karena itu marilah kita bahu membahu, bekerja sama, dengan semangat “kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas” untuk NTT lebih baik.

Selain itu Asisten Deputi Bidang Koordinasi Jaminan Sosial pada Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Alfredo Sani Fenat mewakili Deputi Bidang Koordinasi Penanganan kemiskinan dan perlindungan sosial dalam sambutanya mengatakan, bahwa tujuan dari Revolusi Mental adalah mengubah cara pandang, pikir, sikap, perilaku, dan cara kerja yang berorientasi pada kemajuan dan ke-modernan sehingga Indonesia menjadi bangsa besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Selain itu juga lanjutnya, membangkitkan kesadaran dan membangun sikap optimistik dalam menatap masa depan indonesia sebagai negara dengan kekuatan besar untuk berprestasi tinggi, produktif, dan berpotensi menjadi bangsa maju dengan podasi tiga pilar Trisakti.

Serta, mewujudkan Indonesia yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan kepribadian yang kuat melalui pembentukan manusia indonesia baru.

“Kedepan, tiga nilai yang dikedepankan oleh Revolusi Mental yaitu: integritas, etos kerja dan gotong royong haruslah menjadi budaya kerja kita semua dalam mengabdi untuk bangsa dan negara. Mari wujudkan cita-cita trisakti, menjadikan indonesia berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan, dapat segera terwujud, katanya.

Hadir pada kesempatan itu tiga narasumber masing – masing Fajar Risa Ulhaq (Anggota POKJA Revolusi Mental Nasional), Syudi Rasyid, (Kasubdit, yang mewakili Direktur Kelembagaan Pariwisata, Pemuda dan Olaheaga Bapennas), Hartono (Kasibdit , pengawasan dan Pengembangan pada Ditjen Politik dan PUM Kementrian dalam Negri RI,Moderator pada rapat tersebut yakni Asisten Deputi Bidang Koordinasi Jaminan Sosial pada Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Alfredo Sani Fenat dan Para peserta Rakor.

Kegiatan tersebut diahkiri dengan diskusi bersama.(*/mas)

Komentar