oleh

Kepala BNPT: Santoso Ditangkap, Moral Anggotanya akan Turun

Jakarta, CNN Indonesia — Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komisaris Jenderal Polisi Tito Karnavian mengatakan kelompok Santoso alias Abu Wardah adalah simbol perlawanan kelompok radikal. Jika Santoso lekas ditangkap, moral anggotanya yang lain pun bakal turun.

“Wilayah Poso tidak bisa dipungkiri, masih banyak kelompok maupun simpatisan Santoso yang berkeliaran, terlebih wilayah itu adalah bekas daerah konflik, sehingga faktor utama berkepanjangannya jaringan terorisme di Poso kemungkinan besar dipengaruhi oleh faktor dendam, ditambah dengan masuknya ideologi radikal,” kata Tito, di Desa Watutau, Kecamatan Lore Peore, Kabupaten Poso, Minggu (3/4).

Komjen Tito hadir di Watutau untuk memotivasi personel TNI dan Polri di sana. Selain itu, dia ingin melihat dan mengetahui langsung permasalahan-permasalahan yang ada, sekaligus juga menawarkan dukungan-dukungan moral serta memantau program kegiatan deradikalisasi dan melihat jaringan radikal di Poso dan sekitarnya.

“Strategi operasi saat ini cukup bagus, sudah ada sektor-sektor dan wilayah operasinya sudah tercover dengan adanya kekuatan personel 3.000 lebih,” katanya.

Satu hal terpenting kata dia, setidaknya usaha maksimal telah dilaksanakan dengan bukti tertembaknya beberapa pengikut Santoso. Entah dalam kondisi hidup maupun meninggal, serta ditemukannya barang bukti berupa senjata dan bahan peledak lainnya.

“Kemajuan sangat bagus, apalagi senjata berhasil disita dan beberapa bahan peledak,” ujarnya.

Tito mengatakan kondisi kelompok Santoso saat ini sudah jauh melemah dan jumlah anggota serta senjata sudah mulai berkurang. Terlebih pasokan logistik dan akses senjata sudah terhenti total, dengan dilakukannya pos-pos pemeriksaan di beberapa titik pintu keluar masuk pegunungan di wilayah Poso dan sekitarnya, sehingga mempersempit ruang gerak mereka.

“Saya sangat optimistis dan tinggal menunggu waktu saja, serta keseriusan anggota di lapangan kasus ini bisa secepatnya terungkap dan selesai, insya Allah,” ujarnya.

Sementara itu Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah kembali merilis nama 29 orang anggota kelompok Santoso yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), tiga di antaranya wanita.

Kapolda Sulteng Brigjen Pol Rudy Sufahriady di Poso, Minggu, mengatakan bahwa sebelumnya jumlah DPO terorisme anggota Santoso sebanyak 41 orang. Namun, seiring berjalannya operasi Tinombala 2016, sebanyak 10 orang dinyatakan tewas dan dua orang ditangkap.

Rudy mengatakan polisi terus menyebarkan poster ke-29 DPO tersebut kepada masyarakat. Menurut dia, tidak menutup kemungkinan ada tambahan orang yang masuk dalam kelompok Santoso, namun tidak termasuk dalam DPO.

“Tetapi yang terakhir sudah ini, berdasarkan keterangan saksi-saksi yang di tangkap sebelumnya. Kami juga akan lebih intens lagi dalam penanganan tindak terorisme yang ada di Sulteng,” ujarnya.

Kapolda juga mengatakan bahwa keberhasilan yang di capai saat ini, bukanlah hanya sikap maupun tindakan pihak Polri. Melainkan sinergitas TNI juga sangat jauh berperan penting dalam operasi Tinombala 2016 ini.

“Kami sangat optimistis bisa menangkap dan menyelesaikan adanya terorisme di Sulteng, itu semua karena adanya kerja sama Polri dan TNI. Tetapi sisi lain peran pemerintah dan masyarakat juga sangat diharapkan lebih maksimal, sehingga bisa bersama-sama menuntaskannya,” kata Rudy. (ded/ded)

Komentar