oleh

Kejati NTT Sita Eksavator Milik Tersangka, Jual – Beli Aset

-Hukrim-24 Dilihat

KUPANG. Terasntt.com — Penyidik Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT menyita barang bukti (BB) berupa satu unit ekskavator milik Paulus Watang, tersangka kasus dugaan korupsi jual beli barang sitaan negara.
Penyitaan BB tersebut berlangsung sejak pekan lalu yang dilakukan oleh Kejati NTT dilakukan pada pekan lalu sekitar pukul 22.00 Wita, setelah diambil dari Buraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang.

Kasi Penkum dan Humas Kejati NTT, Ridwan Angsar, kepada wartawan, Rabu (30/12/2015), mengatakan, selain ekskavator, penyidik juga menyita seperangkat alat las dan hidrolik, ratusan lembar seng bekas dan batang besi kanal C yang dijual ke PT. Ramayana dan Hotel Ima Kupang.

Menurut Ridwan, ekskavator yang disita merupakan alat yang dipakai untuk merobohkan bangunan sitaan negara, yakni bekas pabrik dan gudang Sagaret di wilayah Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang.

“Sebelumnya telah disita seluruh dokumen dan kwitansi dari tersangka, terkait jual beli barang sitaan negara itu,” tegas Ridwan.

Untuk diketahui, kasus dugaan korupsi jual beli barang sitaan negara tanpa melalui proses lelang itu, terjadi saat perkara Adrian Waworuntu yang ditangani Kejagung RI, memiliki putusan berkekuatan hukum tetap pada tahun 2005.

Semenjak itu, seluruh asset Adrian Waworuntu, yakni perusahan Sagared, termasuk yang berada di NTT, disita untuk negara. Dan oleh penghitungan aprisal pada tahun 2010, total asset yang disita di NTT senilai puluhan miliar rupiah.

Dari hasil penghitungan aprisal itu, telah dilakukan dua kali lelang, namun selalu gagal. Pasalnya, tidak ada yang berani menjadi peserta lelang, lantaran nilai penawaran yang terlalu tinggi.

Selanjutnya, sekira bulan Mei – November 2010, ada dua bangunan bekas gudang dan pabrik di wilayah Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang, dengan nilai masing-masing Rp 2 miliar, dijual oleh jaksa Djami Rotu Lede kepada Paulus Watang senilai Rp 400 juta tanpa proses lelang.

Pasca jual-beli dilakukan, salah satu dari bangunan seluas 110 meter x 80 meter yang sudah dibeli dari Djami Rotu Lede, dirobohkan Paulus Wetang dan seluruh barang-barang di dalamnya berupa besi tua sudah diambil dan dijual. (che)

Komentar