oleh

Kejati NTT Buru 4 TSK Korupsi Proyek Dermaga

-Hukrim-25 Dilihat

KUPANG, Terasntt.com – Tim penyidik Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kejati NTT) dan Kejaksaan Agung (Kejagung) RI saat ini meemeburu empat tersangka kasus pembangunan dermaga Flotim dan Alor yang menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO) Kejati NTT.
Untuk diketahui, keempat tersangka yan saat ini masuk dalam DPO kasus dugaan korupsi pembangunan dermaga di Kabupaten Alor dan Flores Timur (Flotim) tahun 2014 senilai Rp 43 miliar.
Hal ini diungkapkan Kepala Kejaksaan Tinggi NTT, John W. Purba, SH, MH melalui Kasi Penkum dan Humas Kejati NTT, Ridwan Angsar, SH kepada wartawan di Kantor Kejati NTT, Senin (9/11).
Ia mengatakan, saat ini masih ada empat orang tersangka dalam kasus korupsi pembangunan dermaga di Kabupaten Alor dan Flotim yang masih diburu oleh Kejati NT.
Ia menyebutkan, empat orang tersangka tersebut diantaranya Ramlan salah satu kontraktor yang turut mengerjakan proyek itu. Selain itu, terdapat tiga orang panitia PHO yang Sofiyah, Adi Nugraha Suryadi, dan Slamet Maryot. Ke-4 orang tersangka dalam kasus itu kini sedang dilakukan perburuan oleh Kejati NTT.
“Sampai sekarang masih ada empat orang tersangka dalam kasus pembangunan dermaga di Kabupaten Alor dan Flotim yang masih buron. Mereka berempat sudah masuk dalam DPO Kejati NTT, “ kata Ridwan.
Mengenai keberadaan para tersangka, lanjut Ridwan, telah diketahui oleh tim penyidik Kejati NTT dan Kejagung RI. Namun, untuk membekuk para tersangka Ridwan mengaku bahwa sedang mengalami kesulitan karena para tersangka sering berpindah-pindah tempat tinggal.
Namun demikian lanjutnya, tim penyidik Kejati NTT dan Kejagung RI tidak surut semangatnya dalam melakukan pengejaran terhadap para tersangka. Prburuan kepada para tersangka terus dilakukan.
“Mudah-mudahan dalam waktu dekat para tersangka sudah bisa ditangkap karena keberadaan para tersangka sudah diketahui oleh tim penyidik Kejati NTT dan Kejagung RI, “ kata Ridwan.
Ia berharap, para tersangka segera menyerahkan diri kepada Kejati NTT agar tidak menghambat proses hukum yang ada. Selain itu, para tersangka juga tidak lagi merasa dikejar oleh penegak hukum. Dengan menyerahkan diri maka proses hukum tdak terhambat karena sikap para tersangka.
“Jika mereka serahkan diri, maka semuanya menjadi aman. Tidak lagi dikejar-kejar seperti orang yang tidak lagi punya rumah. Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, “ katanya.
Secara terpisah, Umar selaku kuasa hukum para tersangka yang dihubungi wartawan, meminta para tersangka tidak lagi menjadi buronan oleh Kejati NTT. Dirinya berharap agar para tersangka dalam waktu dekat menyerahkan diri agar tidak menghambat proses hukum dalam kasus itu. (che)

Komentar