oleh

dr. Herman Man : Masyarakat Kota Jangan Ciptakan Klaster Kupang

-Humaniora-72 Dilihat

Wakil  Walikota Kupang  dr. Herman Man didamping Karo Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Marius Arde Jelamu, M.Si saat memberikan keterangan pers di Kupang, Sabtu (2/5/2020) malam.

Kupang, teras-ntt.com — dr. Herman Man yang juga Wakil Walikota Kupang menyampaikan, bahwa Pemerintah Kota berharap jangan membuat klaster baru di kota ini. Cukup klaster yang dari luar. “Jangan tiba-tiba nanti ada perkembangan baru, ada klaster Kupang. Kenapa klaster Kupang terjadi ? Karena kita tidak patuhi himbauan pemerintah Kota Kupang. Kita warganya tidak disiplin, sudah disuruh jangan berkumpul, jangan berkeliaran tapi warga Kota Kupang masih berkeliaran. Disuruh pakai masker masih banyak yang melanggar. Disuruh jangan berjualan, masih banyak yang melanggar. Kita takut jangan sampai Kota Kupang menjadi klaster baru dan itu amat sangat menyulitkan dalam pelacakan,” tegas Dokter Herman saat memberikan keterangan pers kepada wartawan di Kupang, Sabtu (2/5/2020) malam.

Didampingi juru bicara percepatan penanganan Covid-19 NTT, yang juga Karo Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Marius Ardu Jelamu,M.Si, dr. Herman meminta bantuan kepada para tokoh agama untuk membantu Pemerintah Kota Kupang meminimalisir penyebaran virus corona. “ Karena itu, saya minta warga masyarakat Kota Kupang melalui tokoh agama, tokoh masyarakat, sebar luaskan imbauan pemerintah. Jangan sampai orang akan mencerca kita di Kota Kupang sementara di tempat lain aman. Kita akan menjadi sumber penularan. Kita bersyukur karena belum ada tanda – tanda transmisi lokal. Jadi semua yang positif ini berasal dari luar NTT. Kekuatiran kita adalah ada warga Kota Kupang yang positif, tidak kemana – mana tapi dia positif. Ini yang kita takuti, ini yang disebut transmisi lokal,” kata mantan Kadis Kesehatan Kabupaten Kupang.

Selain itu dr. Herman juga menjelaskan tentang upaya Pemerintah Kota setelah dinyatakan ada 7 kasus positif di Kota Kupang, maka sejak 2 atau 3 hari lalu terutama Dinas Kesehatan Kota Kupang telah melakukan tracking. Dari tracking tersebut dapat biberitahukan bahwa :
Pertama, ada klaster dari Sukabumi. Ada kelompok yang baru datang dari Sukabumi, mereka berjumlah 13 orang. Secara jujur sejak tanggal 13 dan 14 pihak Dinas Kesehatan Kota Kupang sudah mengetahui jumlahnya dan kita sudah melakukan kerja sama dengan pihak SPN (Sekolah Polisi Negara) untuk mengisolasikan mereka. Tapi rupanya mereka itu datang dengan OTG istilahnya, terbukti pada waktu diambil swab dan hasilnya ada 7 yang positif. Itulah yang diumumkan oleh Pemerintah Provinsi bersama dengan klaster yang lain. Dari 13 orang itu 7 yang sudah diperiksa positif, sementara 6 lainnya sampai hari ini hasilnya belum masuk di Kota Kupang, kita tidak tahu tapi tidak usah kuatir, kita sudah melakukan kerjasama 7 orang dirawat di ruang isolasi di RS Bayangkara. Sedangkan 6 masih diisolasi di SPN. Terhadap 13 orang ini terutama 7 kasus positif ini kami sudah melakukan kontak person dan dapatlah 17 orang. 17 orang ini dengan rincian 15 orang dari Kota Kupang dan 2 dari luar Kota Kupang. Terhadap 15 orang ini, esok pagi (hari ini-red) rencananya akan dilakukan swab untuk memastikan kondisi mereka. Sedangkan yang 6 belum ada hasilnya. Sekali lagi kita masih mengisolasikan mereka di SPN. Saya yakin kerjasama dengan pihak kepolisian agak ketat isolasinya. Ini klaster yang pertama.

Kedua, adalah klaster Gowa. Nama – namanya kita sudah miliki. Dan juga saya kira sudah ditulis di provinsi bekas kegiatan di Gowa Sulawesi Selatan. Mereka masuk ke Kota Kupang 6 orang temannya yang di Labuan Bajo 2 orang yang positif. Nah kami belum bisa memberikan hasilnya karena esok (hari ini-red) baru kita melakukan pemeriksaan dan sejak tadi pagi jajaran Dinas Kesehatan sudah mulai memperhitungkan waktu dia datang sampai sekarang ini tinggal dimana? kira-kira siapa yang dia kontak dan itu hasilnya positif maka orang – orang yang tadi kita sudah inventarisir awalnya itu akan kita tracking.

Yang berikut, lanjut Herman adalah klaster Magetan. Ini menurut data adalah anak – anak kita dari Kota Kupang yang pulang dari Magetan. Mereka ada 10 orang. Kita belum tahu hasilnya. Magetan ini tentu Madiun, Surabaya itu kan pasti kita semua sudah tahu mereka ada 10 orang. Kita harapkan mereka juga melakukan swab. “Sehingga warga Kota Kupang, saya perlu informasikan bahwa saat ini sisa ODP kita itu sudah tinggal 50-an dan mulai kemarin 18 orang kami sudah mengambil swabnya. Sisanya, Senin (4/5/2020). Sehingga kita memastikan ODP yang terakhir itu semuanya diperiksa swab. Kemudian yang sedikit kita perlu waspada di Kota Kupang ada 18 OTG, ini yang berpotensi,” tandas dr. Herman.

Terkait rapid test ? “Kita sudah melakukan rapid test terhadap 105 orang sejak awal kita terima sampai kemarin 105 orang dan rapid test positif itu 16 orang. Semua yang positif saya perintahkan semuanya diswab, Jujur hasilnya sampai sekarang belum ada. Kalau ada pun pasti kita hubungi dan kalau sudah ada dalam rekaman kita dalam rapid test alamatnya kita sudah tahu sehingga warga Kota Kupang tidak usah kuatir,” pintanya.

Dr. Marius Ardu Jelamu, M.Si sedang memberikan keterangan pers

Upaya dan kerja keras Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang patut diacungi jempol. Pasalnya Pemkot melalui gugus tugas percepatanan penanganan Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 telah melaksanakan berbagai tahapan setelah gugus tugas Provinsi NTT mengumumkan adanya pasien terkonfirmasi positif virus corona di Kota Kupang beberapa waktu lalu.
” Kita di kota ini sudah melakukan 73 swab. 73 swab ini hasilnya 44 negatif dan 8 diantaranya positif. Sedangkan 29 sampel dalam proses laboratorium,” ucap Wakil Walikota Kupang.

Menurut dr. Herman, jika laboratorium RSUD Prof. Dr. W.Z. Johanes Kupang sudah bisa digunakan untuk memeriksa sampel swab maka hasilnya akan lebih mudah dan cepat diinformasikan kepada masyarakat. “Nanti kalau tanggal 5 atau 6 Mei ini, kita di NTT sudah bisa melakukan pemeriksaan laboratorium, menurut saya itu akan mempercepat supaya notifikasi hasilnya akan diinformasikan dengan cepat,” tandasnya.
Karena itu, kata dr. Herman, pihaknya meminta kepada masyarakat Kota Kupang untuk mematuhi protokol – protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh WHO maupun otoritas pemerintah.

Pada tempat yang sama, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si mengungkapkan, hasil riset para ahli menyebutkan eskalasi grafik penurunan virus corona secara global ada di negara Jerman, Korea Selatan, Australia dan New Zealand. “Menurun karena warga masyarakat sangat patuh dan taat terhadap protokol – protokol kesehatan yang ditetapkan oleh WHO,” tandas Marius. (Valeri Guru/Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT/m45)

Komentar