oleh

Disnak TTU Diduga Terlibat Mafia Dagang Sapi dengan Pengusaha Tak Berizin

-Ekbis-16 Dilihat

KEFAMENANU, Terasntt.com — Selama bertahun – tahun mafia perdagangan dan pengiriman sapi oleh pengusaha tanpa izin dari Eban, Kabupaten Timor Tengah Utara ke luar daerah. Kuat dugaan mafia ini melibatkan Dinas Peternakan setempat.

Sebelum diangkut, sapi – sapi itu terlbih dahulu ditimbang di oleh petugas Disnak TTU, Beni Asa di Desa Fatuneno.

Mafia pengiriman sapi secara besar – besaran oleh sejumlah pengusaha tanpa izin lolos dari pantauan aparat keamanan dan petugas dinas peternakan di tingkat kecamatan.

Praktek mafia ini dilakukan pada salah satu kantong populasi ternak sapi terbesar di Eban, Desa Fatuneno dan Manusasi di Kecamatan Miomafo Barat oleh pengusaha dari luar NTT.
Sayangnya sebagian pengusaha ini tidak mengantongi izin resmi. Namun bekerja sama dengan staf dinas peternakan di lapangan untuk mengeluarkan sapi – sapi dengan bobot mencapai 350 kilogram melalui jalur tikus menuju Kupang.

Hasil investigasi waratwan Terasntt.com selama dua hari – dua malam sejak, Rabu (10/2/2016) di Eban mendapatkan enam puluh ekor Sapi Sari Tani, milik masyarakat Desa Fatuneno dan Manusasi dijual kepada pengusaha liar dan sudah lolos diberangkatkan ke Kupang melalui jalur Kapan, Kabupaten TTS.

Sementara keesokan harinya, Kamis (11/2/2016) siang hingga sore ada 30 ekor sapi jantan dengan bobot 150 – 300 kilo gram ditimbang dengan timbangan milik Disnak TTU di Desa Fatuneno dan disaksikan masyarakat pemilik sapi serta Pengusaha Sapi asal Jawa Jakarta bernama Heri dan dibackingi seorang staf Disnak TTU, Beni Asa.

Sementara pengusaha sapi, Heri ini belum mengantongi izin resmi dari Disnak TTU.

Pada hari yang sama sekitar pukul 15.00 – 22.00 wita, tiga truk milik pengusuha memasuki lokasi penimbangan untuk mengangkut sapi yang ada menuju Kupang melalui jalur, Kapan, SoE. Namun upaya ini gagal karena muncul wartawan di lokasi tersebut.

Dari ketiga truk itu salah satunya mengurungkan niat untuk tidak mengantar ke Kupang dan menurunkan kembali sapi yang ada membatalkan penyewaan.

Hingga pukul 24.00 wita, truk ke tiga yang rencananya akan mengangkut sapi – sapi tersebut kembali masuk gudang dan batal memuat sapi tanpa alasan.

Kadis Peternakan kabupaten TTU, Pace Dami saat dikonfirmasi melalui pinselnya, malam itu juga, mengaku telah dihubungi stafnya Beni Asa dan dia melarang agar tidak melakukan hal itu.

” Dia (Beni Asa-red) sempat menghubungi saya kemarin malam dan sudah saya larang. Tapi saya tidak tahu kalau dia ikut terlibat dalam proses penimbangan sapi saat ini. Saya akan telpon dia sekarang,” kata Dami.

Dia juga mengakui sudah ada SK Gubernur NTT terkait izin kuota untuk Kabupaten TTU
agar mengeluarkan izin kuota yang diberikan kepada semua pengusaha yang mengajukan permohonan dan diwajibkan mengirim melalui Pelabuhan Wini.

“Kuota yang dikasih ke dinas peternakan TTU sebanyak 7.100 ekor, terdiri dari 7.000 ekor sapi dan 100 ekor kuda. Di luar dari itu kami tidak rekomendasikan guna tetap menjaga keseimbangan populasi. Dan kita tekankan khusus untuk Kabupaten TTU tidak ijinkan pengiriman melalui jalur lain selain Pelabuahn Wini. Sejauh ini baru satu pengusaha mewakili CV. Varietas Timor Permai yang mengajukan permohonan izin kuota. CV. Intan baru tadi datang urus surat tapi petugasnya tidak ada jadi ditunda pengurusannya,” katanya.

Kurang lebih satu jam setelah kadis dikonfirmasi, Beni Asa dan beberapa pemilik sapi melewati di depan wartawan dan mengatakan ia hanya menarik retribusi saja.

“Saya tidak tahu apa – apa, saya hanya datang untuk menarik retribusi saja,” jawab Asa singkat.

Sementara penarikan retribusi yang dimaksud tidak jelas dimasukkan kemana lantaran pengirimannya bukan melalui jalur Pelabuhan Wini, Kabupaten TTU akan tetapi melalui Kabupaten TTS, yang nota benenya tidak ada pemasukan untuk kas daerah.

Asa-pun, telah ditegur kadis untuk tidak melakukan aktifitas penimbangan dan pengiriman sapi dengan pengusaha liar.

Saat dikonfirmasi melalui ponselnya, Jumat (12/2/2016) petang pengusaha sapi asal Jakarta ini, mengakui sapi yang dibeli ditunda pengirimannya, lantaran tidak mengantongi izin resmi.

“Belum, sementara kami masih menunggu surat rekomendasi dari dinas,” jawabnya singkat.

Informasi lain yang berhasil dihimpun media ini, dari 30 ekor sapi yang akan dikirim pada hari kedua jumlahnya menurun menjadi 20 ekor lantaran pada malam harinya sebagian pemiliknya menarik kembali dengan alasan tak cocok harga jika dibanding dengan berat satu ekor sapi.

Bobot sapi dengan berat 250 kilogram, dibuka pembeli Anis Laka ke pengusaha liar dengan harga Rp 28.600 per kg/ ekor dan untuk sapi yang berbobot 300 kilo gram dibuka dengan harga Rp 30.000 per kg/ ekor.

20 ekor sapi yang diangkut dengan dua unit truk gagal diberangkatkan karena berhasil dicegat anggota Polsek Eban, kemudian hasil koordinasi dinas peternakan dan pihak polsek Eban, akhirnya hari Jumat siang kedua truk yang memuat sapi tersebut digeser ke lokasi penampungan di Bitauni, Kecamatan Insana sesuai izin yang dimiliki.

Seorang pemilik sapi yang enggan menyebutkan namanya mengaku, sapi program Sari Tani diangkut pengusaha liar melalui jalur Kapan, Kabupaten TTS dan dibackingi oknum staf dinas peternakan.

“Saya jujur, saya pemain lama di sini dan sapi – sapi yang dibeli pengusaha dengan harga yang tinggi dan sangat membantu masyarakat. Hanya saja kami tidak tahu kalau pengusaha yang masuk selama ini ternyata tidak mengantongi izin resmi”, ungkapnya.

Demikian pemilik lainnya juga mengaku, bahwa selama ini mulai dari pengumpulan sapi masyarakat sampai naik ke penimbangan dan dikirim disaksikan staf dari Disnak TTU.

“Wah, kami baru tahu kalau pak Heri, pengusaha sapi itu tidak ada izin dari dinas. Karena selama ini yang mencari sapi, mengumpulkan sapi, ikut menimbang sampai pengiriman justru dikawal staf dari dinas peternakan TTU yang ada di kecamatan. Berarti pak kadis sendiri tau ini pengusaha liar. Kenapa tidak tegas terhadap staf, jangan – jangan selama ini mereka semua dapat jatah dari pengusaha liar itu. Padahal ada pengusaha yang izinnya jelas tapi staf disnak itu melarang kami jual ke mereka. Katanya Sapi Sari Tani tidak boleh dibisniskan ke pengusaha.

Sementara staf pak kadis yang mengerti aturan justru berpihak pada pengusaha liar dengan mengarahkan masyarakat menjual sapinya ke pengusaha tertentu.
Seolah – olah Sapi Sari Tani ini hanya diperjualbelikan kepada pengusaha tertentu saja, padahal masih ada pengusaha lain bisa membeli dengan harga yang lebih tinggi. Ini sama saja dengan mereka datang mencuri sapi di TTU,” ungkapnya kesal.

Jelas, bahwa Sari Tani yang merupakan program pemerintah setempat diperuntukkan bagi masyarakat guna membantu pertumbuhan ekonomi keluarga. Dan penjualan Sapi Sari Tani juga dilakukan dengan mengikuti mekanisme pasar yang ada tanpa ada monopoli apalagi ada penunjukkan dari dinas atau pejabat tertentu agar petani membeli atau menjual kepada pihak tertentu.(dit)

Komentar