oleh

Bripka Samuel Bani, Usir Wartawan saat Meliput di Polsek Lurasik

-Hukrim-19 Dilihat

KEFAMENANU, Terasntt.com — Kanit reskrim Polsek Lurasik, Kecamatan Biboki Utara Kabupaten Timor Tengah Utara, Bripka Samuel Bani mengusir wartawan Antv, TvOne dan Harian Viktori News ketika meliput kasus penganiayaan yang melibatkan kepala Desa
Sapaen, Valentinus Manek di Polsek setempat, Rabu (06/01/2016). Kedua wartawan yang sedang menjalankan tugas Jurnalistik ini ditegus oleh Bripka Samuel Bani, ketika bersandar di tembok Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) setempat.

Bukan hanya itu wartawan tersebut juga dilarang untuk meliput apalagi mengkonfirmasi kasus penyerangan dan penganiayaan yang melibatkan Kades Manek pada tanggal 2 Januari 2016 lalu.

Sikap tak terpuji ini seolah disengajakan karena diduga merasa tidak nyaman dengan kehadiran awak media di ruang SPKT itu, ketika puluhan warga mendatangi polsek Lurasik mempertanyakan perkembangan kasus dimaksud.

Selain menolak dikonfirmasi dengan gaya yang kasar dan agak sombong, anggota polisi ini juga berbohong, bahwa bukan merupakan wilayah kerjanya sehingga tidak berhak memberi pernyataan terhadap media. Padahal jelas ia merupakan Kanitres di Polsek Lurasik.

Dengan sebatang rokok yang menyala diselipkan diantara jari tengah dan telunjuk, Kanitres arogan ini menunjuk – nunjuk ke awak media yang berada tepat didepannya dan di depan puluhan massa yang datang.

Kedua wartawan, Antv – TvOne Judith Lorenzo Taolin dan Viktori News, Gusti Amsikan yang berdiri di depan Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT), ditegur dengan sinis untuk tidak berada di sana. Namun cara menegurpun sudah kasar dan sangat tidak bersahabat sejak awalnya.

” Jangan duduk di situ, duduk di kursi saja. Itu bukan tempat duduk,” katanya sinis.

Gusti Amsikan yang merasa tidak duduk di atas tembok teras mengatakan, ia tidak duduk di atas tembok, sehingga adu mulut kembali terjadi, disaksikan masyarakat.

Merasa direkam segala aktifitasnya, oleh wartawan TV Judith Lorenzo Taolin, sontak Bani naik pitam dan melarang tidak boleh merekamnya dan menolak wartawan hingga nyaris menjatuhkan camera.

” Anda ambil gambar untuk apa dan atas seijin siapa disini, ini rumah saya. Saya tuan rumah di sini. Etika anda ada dimana,” teriang Bani.

Teriakan itu langsung dijawab wartawan Gusti, bahwa kedatangan wartawan ke polsek sudah sejak pagi karena ada kasus yang harus dikonfirmasi.

” Wartawan juga ingin mengetahui alasan apa permintaan visum korban tidak ditanggapi padahal menurut kapolres TTU sendiri, harus ada hasil visumnya. Tidak boleh meliput di sini? Ini wilayah publik dan yang diliput ini adalah berita kasus yang perlu kami konfirmasi. Setidaknya jika kapolsek tak berada di tempat, mungkin ada yang dimandatkan,” kata Gusti sambil menjelaskan tentang Undang – undang Pers dan keterbukaan informasi Publik terkait peliputan berita kasus itu.

Mendengar itu, Bani kembali naik pitam menunjuk – nunjuk wartawan sambil menolak wartawan menggunakan telapak tangannya dan mengatakan tidak boleh meliput dan tidak bersedia dikonfirmasi.

“Cukup, kalau saya bilang cukup berarti tidak boleh tanya – tanya lagi, mengerti. Cukup …cukup!”, tegas Bripka Bani dengan geramnya sambil menatap tajam ke arah Gusti dan Judith.

Adu mulutpun terus berlanjut antara Gusti dan Bripka Bani, disaksikan puluhan keluarga korban. Bahkan bripka Bani menantang wartawan Gusti yang mengatakan hendak menelpon Kapolres dan kabag Ops Polres TTU.

“Silahkan saja kalau mau telpon, kamu pikir saya takut, saya tidak takut. Telpon sudah sekarang, telpon sudah,” teriak Bani.

Keributan antara Gusti dan Bripka Bani baru reda setelah terlihat Kanitres menerima telpon dari pimpinannya di tingkat Polsek dan Polres.

Merasa malu dengan adu mulut dan telpon dari pimpinannya, akhirnya Bripka Bani meninggalkan wartawan dan keluarga korban menuju ke ruang belakang.

Pantauan media ini, Bripka Bani terlihat sangat tidak sopan, pasalnya saat mendengar tuntutan masyarakat ia terus merokok dan bergoyang kaki di depan puluhan keluarga korban dan wartawan.

Sebelumnya diberitakan, anggota polsek Lurasik diduga berupaya melindungi kepala desa dalam kasus penyerangan yang digerakkan kepala desa Sapaen kecamatan Biboki Utara, Valentinus Manek terhadap Marselinus Saka Jumat dini hari, (02/01/2016).

Proses hukum terhadap kades Manek tidak transparan. Bahkan korban penyerangan yang mengalami luka di pelipis dan mata bagian kiri saat mengajukan permohonan visum ke polsek Lurasik, sama sekali ditolak anggota tanpa alasan yang jelas.(dit)

Komentar