oleh

BNPB: Banjir, Longsor dan Puting Beliung Masih Mengancam

-Nasional-22 Dilihat

Jakarta – Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan puncak musim hujan tahun ini terjadi pada bulan Februari. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh El Nino yang menyebabkan anomali, hujan selama Januari lebih rendah dengan sebaran tidak merata.

“Diprediksikan intensitas hujan pada bulan Februari tinggi hingga sangat tinggi,” kata Sutopo melalui keterangan tertulisnya, Minggu (14/2/2016).

Intensitas hujan tinggi berpeluang terjadi di sebagian Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, seluruh Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulsel, Sulbar, Sulteng, Sultra, Papua dan Papua Barat.

“Daerah-daerah ini ancaman banjir, longsor dan puting beliung berpotensi tinggi. Bukan berarti daerah-daerah lain sudah aman. Ancaman juga tetap tinggi, meskipun hujan lokal akan lebih berperan yang menyebabkan bencana,” kata Sutopo.

Menurut dia, sesuai data sejarah kebencanaan di Indonesia, 96 persen bencana adalah bencana hidrometerorologi yaitu bencana yang disebabkan pengaruh cuaca seperti banjir, longsor, putting beliung, cuaca ektrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan.

Banjir, longsor dan putting beliung, kata Sutopo, adalah jenis bencana yang paling dominan. Trend kejadian ketiga jenis bencana tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun. Dampak perubahan iklim global secara siginifikan telah mengubah pola curah hujan, baik pada perubahan intensitas, durasi dan tebal hujan.

“Saat ini frekuensi hujan dengan intensitas tinggi semakin sering terjadi. Hal ini disebabkan volume awan-awan orografik telah bertambah besar volumenya sehingga uap air yang dikandung oleh awan-awan tersebut semakin besar juga,” papar Sutopo.

Meningkatnya suhu di atmosfer telah menyebabkan puncak-puncak awan orografik, khususnya awan Cumolonimbus telah makin tinggi sehingga energi yang ada dalam awan tersebut bertambah besar. Makin tinggi intensitas hujan, maka daya pukul terhadap permukaan tanah juga makin besar. Daya tampung dan daya dukung lingkungan tidak mampu mengalirkan aliran permukaan secara bersamaan sehingga banjir.

Menurut Sutopo, hujan adalah pemicu terjadinya banjir dan longsor. Namun faktor yang paling berperan menyebabkan banjir dan longsor adalah factor antropogenik atau pengaruh ulah manusia. Makin rusaknya lingkungan seperti meluasnya lahan kritis, daerah aliran sungai kritis, rendahnya persentase ruang terbuka hijau dan hutan, berkembangnya permukiman di dataran banjir, pelanggaran tata ruang, buruknya pengelolaan sampah, sedimentasi, budidaya pertanian di lereng-lereng perbukitan atau pegunungan tanpa kaidah konservasi, dan lainnya telah menyebabkan wilayah makin rentan terhadap banjir dan longsor.

“Politik lokal juga makin meningkatkan kerentanan, dimana makin merebak ijin usaha pertambangan di bagian hulu daerah aliran sungai, minimnya pendanaan untuk pengurangan risiko bencana, terbatasnya staf professional yang ditempatkan pada jabatan-jabatan strategis dan lainnya,” kata Sutopo.

Menurut dia, dari 1 Januari 2016 hingga 12 Februari 2016, telah terjadi bencana banjir, longsor dan puting beliung di 290 kabupaten/kota di Indonesia. Dampak yang ditimbulkan adalah 45 orang tewas, 48 orang luka-luka, hampir satu jiwa mengungsi, dan ribuan rumah rusak.

“Ini adalah data sementara yang pasti akan meningkat karena pendataan saat darurat bencana seringkali belum dapat dilakukan dengan baik,” papar Sutopo.

Data BNPB mencatat selama 1 Januari hingga 12 Februari 2016 ini telah terjadi 122 kejadian banjir yang melanda di 23 provinsi. Bencana ini mengakibatkan 14 orang tewas, lebih dari 946 ribu jiwa mengungsi, 1.767 rumah rusak, puluhan ribu rumah terendam banjir dam 281 bangunan fasum rusak.

Sementara tanah longsor, terjadi 65 kali di 12 provinsi yang menyebabkan 29 orang tewas, 11 orang luka, 1.319 orang mengungsi dan 387 rumah rusak. Puting beliung juga terjadi 103 kali di 17 provinsi yang menyebabkan 2 orang tewas, 34 orang luka, 779 jiwa mengungsi dan 1.660 rumah rusak.

Untuk antisipasi banjir, longsor dan putting beliung pemerintah dan pemda sudah melakukan langkah-langkah antisipasi sejak November 2015. Banjir dan longsor adalah jenis bencana yang tergolong slow on set. Tidak terjadi tiba-tiba seperti gempabumi. Harusnya biasa diantisipasi.

BNPB telah mendistribusikan dana siap pakai Rp 150 milyar yang diberikan kepada BPBD yang memiliki daerah rawan banjir dan longsor. Perkuatan logistik dan peralatan seperti kendaraan, tenda, makanan siap saji, obat-obatan, alat SAR, radio komunikasi, pembangunan pusat pengendali operasi, peralatan dapur umum dan lainnya dilakukan untuk memperkuat buffer stock di BPBD. Pelatihan dan peningkatan kapasitas juga dilakukan kepada personil-personil BPBD.

“Pada saat terjadi bencana, maka semua bantuan tadi dikerahkan untuk penanganan darurat. BNPB juga hadir memberikan pendampingan atau memperkuat kepada BPBD, baik perkuatan pendanaan, manajerial, logistik, peralatan dan administrasi,” kata Sutopo.(erd/erd)

Komentar